Jumat, 25 JULI 2025 • 16:44 WIB

Aceh Targetkan Generasi Sehat, Stunting Jadi Prioritas

Author

Wakil Bupati Aceh Besar, Drs. Syukri A. Jalil, menghadiri Lokakarya Komitmen untuk Gizi di Ruang Rapat Serbaguna Kantor Gubernur Aceh. (Dok : MC Aceh Besar)

ACEH - Wakil Bupati Aceh Besar, Drs. Syukri A. Jalil, menghadiri Lokakarya Komitmen untuk Gizi yang digelar di Ruang Rapat Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Kamis (24/07/2025).

Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat penurunan angka stunting di Provinsi Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Besar.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Syukri menegaskan bahwa upaya penanggulangan stunting tidak bisa hanya bertumpu pada kecerdasan teknis atau program formal semata.

Menurutnya, permasalahan ini memerlukan kepedulian yang tulus, keteladanan, serta aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Ia mengajak semua pihak, terutama keluarga, untuk memulai pencegahan stunting dari langkah sederhana, yakni memperhatikan isi piring makan anak.

“Banyak orang salah kaprah dengan menganggap stunting hanya disebabkan oleh masalah selama masa kehamilan. Padahal, banyak kasus stunting justru terjadi ketika anak memasuki usia satu hingga dua tahun, saat mereka mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI,” jelasnya.

Baca juga: Generasi Cerdas Dimulai dari Piring: Ini Jurus Aceh Timur Lawan Stunting!

Ia menegaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam pencegahan stunting. “Anak bukan beban, tapi amanah dan aset yang tak ternilai. Orang tua harus kembali pada fitrahnya sebagai pelindung dan pendidik utama. Mulailah dengan memberi anak makanan yang sehat, bergizi, dan sesuai kebutuhan usianya,” ujar Syukri penuh penegasan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh, Dr. Drs. Yusrizal, M.Si., menyampaikan bahwa berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, Aceh masih berada di peringkat lima besar secara nasional sebagai provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi. Hal ini merupakan tantangan serius yang harus ditangani secara kolaboratif dan menyeluruh, tidak bisa dilakukan secara sektoral atau terpisah-pisah.

Yusrizal menekankan bahwa penggunaan data yang akurat merupakan kunci utama dalam merancang kebijakan dan program pembangunan yang tepat sasaran. Ia juga menyoroti capaian Aceh yang telah berhasil meraih status 100% Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di tingkat provinsi sebagai sebuah prestasi penting yang perlu terus dipertahankan keberlanjutannya.

“Keberhasilan ini bukan sekadar prestasi, tetapi amanah besar yang membutuhkan komitmen bersama agar program-program penanganan gizi, termasuk stunting, dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujarnya.

Wakil Bupati Aceh Besar, Drs. Syukri A. Jalil, menandatangani komitmen bersama Lokakarya Komitmen untuk Gizi di Ruang Rapat Serbaguna Kantor Gubernur Aceh. (Dok : MC Aceh Besar)

Andi Yoga, selaku Kepala Perwakilan UNICEF Aceh, mengapresiasi kemitraan yang solid antara UNICEF dan Pemerintah Aceh. Ia menekankan bahwa peringatan Hari Anak Nasional 2025 harus menjadi momen refleksi terhadap kondisi anak-anak di Aceh yang masih menghadapi tantangan serius dalam hal gizi, imunisasi, dan sanitasi.

Menurutnya, stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga mencerminkan tantangan pembangunan yang lebih kompleks. Rendahnya cakupan imunisasi serta terbatasnya akses terhadap sanitasi layak di sejumlah wilayah disebut sebagai faktor yang memperburuk kondisi anak-anak.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat, disertai kolaborasi lintas sektor, sangat dibutuhkan untuk mewujudkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan.

“Kolaborasi dan kepemimpinan yang kuat adalah kunci utama. UNICEF bangga bisa terus mendampingi Pemerintah Aceh dalam memperkuat komitmen dan upaya untuk mewujudkan generasi yang sehat dan unggul,” ujarnya.

Lokakarya ini mengangkat tema “Dari Bukti Menuju Dampak: Mewujudkan Program Gizi yang Terarah, Terintegrasi, dan Berkelanjutan.” Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan konsolidasi bagi seluruh pemangku kepentingan, dengan harapan mampu menghasilkan rekomendasi konkret dalam program penguatan gizi, peningkatan peran keluarga, serta integrasi lintas sektor dalam penanganan stunting.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Acehbesarkab.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU