ACEH - Kementerian Agama menyalurkan bantuan penanganan bencana senilai Rp19,3 miliar untuk mendukung pemulihan fasilitas keagamaan dan pendidikan yang terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh selama masa tanggap darurat.
Bantuan tersebut dikelola melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh berdasarkan hasil pendataan dan analisis JITUPASNA (Pengkajian Kebutuhan Pascabencana).
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, menyebutkan dari total anggaran itu, sebesar Rp4,42 miliar dikelola langsung oleh Kanwil Kemenag Aceh.
“Kita gunakan untuk mendukung pengadaan logistik, alat kebersihan, operasional relawan, perangkat internet satelit Starlink, serta bantuan bagi mahasiswa terdampak,” kata Khairul di Banda Aceh pada Senin (16/2/2026).
Sementara itu, bantuan sebesar Rp14,9 miliar disalurkan langsung oleh Kementerian Agama Republik Indonesia ke rekening lembaga penerima. Dana tersebut diberikan kepada 131 madrasah swasta dan 18 pondok pesantren dengan nilai bantuan masing-masing Rp100 juta per lembaga.
“Dana Rp4,42 miliar ini kami fokuskan untuk menjawab kebutuhan paling mendesak di lapangan, sekaligus menjaga kelancaran pelayanan pendidikan dan pelayanan publik pascabencana,” ujar Khairul Azhar, Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kanwil Kemenag Aceh.
Baca juga: Rotasi Besar di Kemenag Aceh, Kepala Madrasah dan Pejabat Baru Resmi Dilantik
Ia merinci, Rp1,3 miliar disalurkan ke sejumlah Kantor Kemenag kabupaten/kota terdampak untuk kebutuhan darurat seperti logistik awal, operasional lapangan, pembersihan, serta bantuan langsung kepada masyarakat dan satuan kerja.
Selanjutnya Rp244,5 juta digunakan untuk bantuan kebutuhan pokok korban bencana, Rp71 juta untuk pengadaan laptop, printer, perangkat komunikasi serta internet satelit Starlink, Rp172,3 juta untuk operasional relawan dan kerja bakti sarana prasarana madrasah serta posko, dan Rp15,8 juta untuk biaya transportasi serta distribusi bantuan.
“Kita salurkan berdasarkan laporan kebutuhan dari daerah dan hasil koordinasi dengan tim penanganan bencana,” kata Khairul.
Selain itu, Kemenag juga menyalurkan bantuan sosial bagi mahasiswa terdampak bencana dalam bentuk uang tunai melalui Rekening Islamic Trust Fund Infag. Total dana Rp2,35 miliar diberikan kepada 11.772 mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan swasta, masing-masing sebesar Rp200 ribu per mahasiswa.
Di samping bantuan tunai, Kanwil Kemenag Aceh turut memfasilitasi penyaluran bantuan barang kepada 169 madrasah negeri serta distribusi 5.000 Al-Qur’an ke berbagai kabupaten/kota.
“Ada tenda darurat, genset, pompa air, sekop, cangkul, alat pel, meja, kursi atau laptop. Beda-beda, tidak sama semua madrasah,” katanya.
Penyaluran bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pendataan kerusakan fasilitas keagamaan dan pendidikan. Kemenag mencatat sebanyak 1.842 fasilitas terdampak bencana di Aceh, meliputi 472 madrasah, 391 pondok pesantren/dayah, 896 rumah ibadah lintas agama, 79 Kantor Urusan Agama, serta empat kantor Kemenag kabupaten/kota.
Kabupaten Aceh Utara tercatat sebagai wilayah dengan kerusakan terbanyak, yakni 131 madrasah dan 101 pesantren. Selain Aceh Utara, daerah lain seperti Aceh Tamiang juga mengalami dampak cukup signifikan.
Hingga kini, masih terdapat Rp255 juta yang tersimpan di rekening bank Tanggap Bencana dan akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pemulihan lanjutan yang belum terakomodasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenag Aceh