Rabu, 21 JANUARI 2026 • 21:58 WIB

Bukan Sekadar Rumah: Fakta Rumoh Acèh yang Jarang Orang Tahu

Author

Rumoh Aceh milik Cut Nyak Dhien di Gampong Lampisang masih berdiri. Rumoh Acèh, rumah panggung klasik yang bukan cuma indah dipandang tapi juga sarat filosofi. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Di tengah perkembangan modern yang makin pesat, Aceh tetap memiliki satu warisan arsitektur yang tak lekang dimakan zaman. Rumoh Acèh, rumah adat khas Tanah Rencong, bukan sekadar bangunan kayu tradisional—melainkan simbol identitas, filosofi hidup, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Rumoh Acèh (dalam bahasa Aceh) dikenal sebagai rumah panggung kayu yang tinggi dan memanjang, dengan ukiran khas yang menjadi ciri kuatnya. Sebagai rumah panggung, jarak antara tanah dan lantai dibuat cukup tinggi—umumnya sekitar sembilan kaki atau lebih. Struktur ini berfungsi melindungi penghuni dari ancaman binatang buas serta risiko banjir. Ketika air meluap, aktivitas di dalam rumah tetap aman.

Material utama Rumoh Aceh ialah kayu pilihan yang digunakan sebagai tiang-tiang penyangga. Jumlah tiangnya bervariasi—16, 24, hingga 32 tiang—bergantung pada jumlah ruang: tiga, lima, atau tujuh ruangan. Dinding rumah menggunakan papan keras yang dihiasi ukiran-ukiran Aceh, sementara lantainya disusun dari papan yang tidak dipaku. Cara pasang tersebut memudahkan penghuni melepas papan ketika memandikan jenazah, karena air langsung jatuh ke tanah.

Atap Rumoh Aceh biasanya terbuat dari daun rumbia yang ringan dan memberikan kesejukan alami. Anyaman rumbia yang diikat tali juga bisa dipotong cepat jika terjadi kebakaran, sehingga proses penyelamatan lebih mudah dilakukan.

Pintu rumah dibangun dengan tinggi sekitar 120–150 cm. Siapa pun yang masuk harus sedikit menunduk—sebuah simbol penghormatan kepada pemilik rumah, tanpa memandang status atau jabatan tamu. Sementara itu, jumlah anak tangga Rumoh Aceh selalu ganjil, karena dalam adat Aceh angka ganjil dianggap unik dan penuh makna.

Salah satu keunikan penting lainnya adalah konstruksi rumah yang sama sekali tidak menggunakan paku, melainkan pasak dan tali rotan sebagai pengikat.

Bagian bawah rumah, disebut meuyup rumoh, merupakan ruang kosong di antara lantai dan tanah. Area ini sering dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti tempat bermain anak, kandang hewan peliharaan, lokasi membuat ija sungkét (songket Aceh), hingga ruang berjualan. Meuyup rumoh juga menjadi tempat menyimpan jeungki (penumbuk padi) dan krong pade, wadah penyimpanan padi berbentuk silinder besar.

Bagian tengah rumah adalah area utama bagi penghuni. Ruang ini terbagi menjadi tiga bagian: seuramoe reungeun (serambi depan), seuramoe teungoh (serambi tengah), dan seuramoe likot (serambi belakang).

Serambi depan tidak memiliki sekat dan berfungsi sebagai tempat menerima tamu, ruang tidur anak laki-laki, hingga tempat mengaji. Sesekali, ruangan ini dipakai untuk menjamu tamu penting atau mengadakan kenduri.

Serambi tengah dikenal sebagai rumoh inong, yang dianggap suci dan bersifat pribadi. Bagian ini terletak lebih tinggi dari serambi lain. Di dalamnya terdapat dua kamar yang menghadap utara atau selatan, dengan pintu ke arah belakang. Kamar utama disebut rumoh inong, sedangkan kamar anak perempuan dinamakan rumoh anjung.

Baca juga: Gunung Burni Telong: Destinasi Hits Gayo yang Pernah 5 Kali Meletus

Dalam adat Aceh, pengantin baru akan menempati rumoh inong, sementara kepala keluarga berpindah ke rumoh likot hingga sang anak mandiri. Serambi tengah juga menjadi lokasi memandikan jenazah dalam keluarga.

Serambi belakang memiliki tinggi yang sama dengan serambi depan dan tidak memiliki kamar. Area ini digunakan sebagai ruang kumpul keluarga, tempat makan, dapur, hingga lokasi menenun.

Di bagian atas rumah terdapat ruang loteng berbentuk segitiga yang disebut bubong. Bagian ini dimanfaatkan untuk menyimpan benda-benda berharga keluarga. Bubong kiri dan kanan disatukan oleh struktur bernama perabung, dan letaknya tepat di atas serambi tengah.

Secara keseluruhan, Rumoh Aceh memiliki tiga bagian utama—seuramoë keuë, seuramoë teungoh, dan seuramoë likôt—serta satu bagian tambahan, yaitu rumoh dapu (rumah dapur). Atap rumah juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka keluarga.

Dalam adat Aceh, kepemilikan rumah dan pekarangannya berada di tangan anak perempuan atau ibu. Jika suami meninggal dan tidak memiliki anak perempuan, maka rumah menjadi milik sang istri. Oleh karena itu, pemilik rumah dalam struktur adat Aceh disebut peurumoh, yakni orang yang memiliki rumah secara sah.

Rumah adat Aceh bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga simbol penghambaan kepada Tuhan. Bentuk segi empat yang memanjang dari timur ke barat dibuat untuk menjaga garis imajiner menuju Ka’bah. Sisi rumah yang menghadap timur dan barat juga disesuaikan dengan arah angin badai yang umum terjadi di Aceh.

Selain fungsi filosofis, Rumoh Aceh juga mencerminkan status sosial pemiliknya. Semakin banyak ukiran dan hiasan yang digunakan, semakin tinggi tingkat kemakmuran keluarga tersebut. Sebaliknya, bagi pemilik yang sederhana, hiasannya dibuat sangat minimalis bahkan nyaris tanpa ornamen.

Di balik setiap tiang, ukiran, dan pasak kayu di Rumoh Acèh, tersimpan cerita panjang tentang keuletan masyarakat Aceh menjaga warisan leluhur. Rumah adat ini bukan hanya arsitektur tradisional—melainkan ruang hidup yang merekam nilai, keyakinan, dan perjalanan budaya yang terus bertahan hingga hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU