Gunung Burni Telong menyimpan sejarah panjang dengan lima letusan yang pernah mengguncang Aceh. Dikelilingi kebun kopi Gayo, gunung ini tetap jadi favorit pendaki dan pecinta alam. (Dok : Pemda Bener Meriah)
ACEH - Gunung Burni Telong merupakan salah satu gunung berapi yang berada di Aceh, tepatnya di Kabupaten Bener Meriah, meliputi Kecamatan Timang Gajah dan Wih Pesam. Gunung ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Gunung Tutong, Gunung Boer Moetelong, dan Gunung Telong.
Meski termasuk gunung api aktif, tingkat aktivitasnya saat ini berada pada Level I atau normal, sehingga aktivitas masyarakat di sekitar kaki gunung masih berlangsung seperti biasa. Burni Telong juga menjadi destinasi pendakian populer di Dataran Tinggi Gayo, dikelilingi hamparan kebun kopi khas kawasan tersebut.
Gunung ini memiliki ketinggian 2.624 meter di atas permukaan laut dan termasuk tipe gunung berapi kerucut. Jalur pendakiannya umumnya dimulai dari Kabupaten Bener Meriah.
Pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, status Burni Telong sempat dinaikkan ke Level III (Siaga) setelah serangkaian gempa bumi terjadi dan memicu evakuasi warga di radius tertentu. Saat ini kondisi kembali stabil dan turun ke level normal, meski masyarakat tetap diminta waspada. Gempa-gempa yang muncul belakangan lebih bersifat tektonik dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas letusan.
Baca juga: Status Gunung Burni Telong Turun, Ribuan Pengungsi Timang Gajah Mulai Pulang
Catatan sejarah menunjukkan Gunung Burni Telong telah meletus sebanyak lima kali, yaitu pada tahun 1837, 1839, 1856, 1919, dan 1924 Masehi. Letusan pertamanya tercatat pada akhir September 1837, disertai guncangan yang merusak kawasan sekitar. Letusan kedua terjadi pada 12–13 Januari 1839 dan mengeluarkan abu yang bahkan mencapai Pulau Weh.
Letusan ketiga pada 14 April 1856 mengeluarkan abu dan material batu. Setelah lebih dari setengah abad tidak aktif, letusan berikutnya baru muncul pada Desember 1919, dan letusan terakhir tercatat pada 7 Desember 1924, meski tergolong kecil dan hanya memunculkan lima tiang asap.
Dari sisi ekowisata, Burni Telong menawarkan kekayaan flora dan fauna khas kawasan Gayo. Tumbuhan edelweis dan kantong semar menjadi daya tarik utama, sementara fauna endemik seperti kedih dan siamang turut memperkaya ekosistemnya. Gunung ini juga menjadi habitat bagi 11 jenis burung endemik Sumatera dan lebih dari 50 jenis burung lainnya.
Dengan sejarah panjang aktivitas vulkanik dan potensi ekowisata yang melimpah, Gunung Burni Telong tetap menjadi ikon alam Bener Meriah—indah, menantang, dan menyimpan cerita yang terus hidup hingga hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber