Kamis, 22 JANUARI 2026 • 23:30 WIB

Benteng Indra Patra: Jejak Lamuri dari Hindu ke Islam yang Masih Kokoh Ribuan Tahun

Author

Benteng Indra Patra saksi bisu perjalanan Aceh dari era Hindu hingga kejayaan Islam. Benteng ini pernah jadi tameng menghadapi ancaman luar seperti Portugis. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Di pesisir Aceh Besar, terdapat sebuah benteng tua yang menyimpan jejak perjalanan Aceh dari masa Hindu hingga menjadi salah satu monarki Islam terkuat di Asia Tenggara. Namanya Benteng Indra Patra, saksi bisu peradaban yang silih berganti selama lebih dari seribu tahun.

Benteng Indra Patra (bahasa Aceh: Kuta Indra Patra, Aksara Jawoë: كوتا ايندرا ڤترا) merupakan salah satu situs pertahanan tertua di Aceh, yang telah digunakan sejak era Hindu hingga masa kejayaan Islam. Terletak di kawasan Ladong, Kabupaten Aceh Besar, benteng ini berada sekitar 19 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Menurut berbagai sumber sejarah, Benteng Indra Patra dibangun pada abad ke-7 Masehi oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu yang berkuasa di kawasan pesisir Aceh. Pembangunan benteng ini bertujuan melindungi wilayah kerajaan dari ancaman luar, termasuk serangan kolonial Portugis yang pernah beberapa kali mengincar wilayah Aceh. Lokasinya yang strategis memperlihatkan pentingnya Aceh dalam jalur perdagangan internasional sejak masa awal.

Ketika Kerajaan Lamuri kemudian berkembang menjadi kerajaan bercorak Islam, benteng ini tetap dipertahankan dan digunakan oleh Kesultanan Aceh Darussalam, salah satu kerajaan Islam terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-17. Pada masa itu, Aceh menjadi pusat perdagangan yang ramai dengan kedatangan pedagang India, Tamil, Siam, hingga Arab. Banyaknya interaksi dari luar membuat ancaman serangan semakin mungkin terjadi, sehingga benteng tetap memegang peran vital. Menurut salah satu sumber, benteng ini pernah digunakan untuk mempertahankan wilayah Aceh dari serangan Portugis.

Baca juga: Bukan Sekadar Rumah: Fakta Rumoh Acèh yang Jarang Orang Tahu

Catatan sejarah menyebutkan bahwa benteng ini memiliki luas sekitar 70 × 70 meter. Dahulu terdapat empat bangunan benteng, namun kini hanya dua bangunan utama yang masih utuh, lengkap dengan dua stupa. Di sekitarnya terdapat struktur tambahan yang diyakini sebagai tempat meriam dan penyimpanan amunisi.

Benteng Indra Patra dibangun menggunakan batu kapur dan batu bata. Struktur utamanya memiliki empat sudut dengan bastion—bagian menonjol yang berfungsi sebagai posisi meriam. Dinding benteng, setinggi sekitar tiga meter dan berdinding tebal, dirancang untuk menahan serangan musuh. Di dalamnya terdapat sejumlah ruangan yang diduga digunakan sebagai gudang senjata, barak prajurit, serta ruang pertemuan. Sistem saluran air juga ditemukan, menunjukkan bahwa benteng ini dirancang sebagai pusat pertahanan yang lengkap.

Hingga kini, Benteng Indra Patra masih berdiri meski beberapa bagiannya telah rusak akibat usia dan faktor alam. Pemerintah dan masyarakat terus melakukan upaya pelestarian agar situs bersejarah ini tetap bertahan dan dapat dinikmati generasi mendatang. Tempat ini juga menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menyelami sejarah dan arsitektur kuno Aceh.

Benteng Indra Patra bukan sekadar bangunan kuno—ia adalah saksi perubahan peradaban Aceh dari Hindu, Islam, hingga era kolonial. Di balik tembok-tembok tuanya, tersimpan cerita tentang kekuatan, strategi, dan kejayaan masa lalu yang masih bergema hingga hari ini. Mengunjunginya berarti menapak jejak sejarah yang telah membentuk wajah Aceh modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU