ACEH - Menjelang Ramadan atau setelah mengalami hadas besar, satu hal yang hampir selalu dicari ulang oleh masyarakat adalah tata cara mandi wajib. Padahal praktiknya sudah diajarkan sejak kecil. Namun ketika benar-benar harus dilakukan, muncul lagi pertanyaan: niatnya bagaimana, harus wudhu dulu atau tidak, rambut harus dibuka atau cukup disiram?
Mandi wajib atau mandi besar adalah cara bersuci yang diwajibkan ketika seseorang mengalami kondisi tertentu, di antaranya:
- Keluar mani
- Hubungan suami istri
- Selesai haid
- Selesai nifas
- Jenazah Muslim sebelum dimakamkan
Mandi wajib bukan sekadar mandi bersih. Dalam fikih, ini adalah proses menghilangkan hadas besar agar seseorang kembali dalam keadaan suci dan sah menjalankan ibadah seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Karena itu, yang dinilai bukan hanya basahnya tubuh, tetapi juga cara dan niatnya.
Kesalahan paling sering terjadi justru pada bagian yang tidak terlihat: niat. Banyak orang baru membaca niat setelah selesai mandi. Padahal niat hadir di awal saat air pertama kali mengenai tubuh.
Niat cukup dihadirkan dalam hati saat mulai menyiram air ke tubuh. Melafalkannya diperbolehkan untuk membantu menghadirkan kesungguhan.
Niat Junub
Arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari lillahi ta’ala
Arti
Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.
Niat Setelah Haid/Nifas
Arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitul ghusla li raf’i hadatsil haid lillahi ta’ala
Arti
Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas haid karena Allah Ta’ala.
Baca juga: Niat Sholat Tarawih Lengkap Arab Latin dan Arti, Biar Nggak Salah Saat Ramadhan
Untuk perempuan setelah haid atau nifas, maknanya sama: menyucikan diri dari hadas besar.
Secara lahiriah, mandi wajib terlihat sederhana: cukup menyiram badan sampai basah. Namun dalam praktiknya ada urutan yang dianjurkan agar kesucian benar-benar sempurna.
Dimulai dengan membersihkan kotoran dan najis terlebih dahulu, lalu berwudhu sebagaimana wudhu salat. Setelah itu air disiramkan ke kepala hingga mencapai kulit, baru kemudian ke seluruh tubuh. Bagian kanan didahulukan, lalu kiri. Tujuannya memastikan tidak ada satu titik pun yang terlewat.
Di sinilah banyak kekeliruan terjadi. Orang merasa sudah mandi lama, padahal ada bagian yang tidak terkena air — lipatan telinga, sela jari kaki, pusar, hingga kulit di balik rambut tebal.
Pertanyaan klasik yang selalu muncul setiap tahun: apakah wanita harus mengurai rambutnya?
Dalam praktiknya, laki-laki dan perempuan hampir sama. Air harus mencapai kulit kepala. Jika air sudah meresap sampai akar rambut, kepangan tidak wajib dibuka. Namun setelah haid, dianjurkan lebih sempurna agar benar-benar bersih.
Artinya, inti mandi wajib bukan banyaknya air, melainkan kepastian bahwa seluruh tubuh tersentuh air.
Kesalahan yang Sering Tidak Disadari
Sebagian orang hanya berendam, sebagian lagi mandi seperti biasa tanpa mendahulukan pembersihan najis. Ada juga yang terburu-buru sehingga bagian belakang tubuh tidak terkena air dengan baik.
Secara kasat mata terlihat sudah mandi, tetapi secara syariat belum tentu sah. Di sinilah mandi wajib sering diremehkan — padahal menjadi syarat sah ibadah berikutnya.
Mandi wajib penting dipahami karena merupakan pintu awal sebelum ibadah lain dilakukan. Jika pintunya tidak benar, ibadah setelahnya ikut diragukan. Karena itu ulama menekankan ketenangan dan keyakinan saat melaksanakannya, bukan sekadar cepat selesai.
Kesuciannya tidak ditentukan oleh lama mandi, melainkan oleh niat dan sempurnanya air mengenai tubuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber