Jumat, 23 JANUARI 2026 • 23:45 WIB

Masjid Raya Baiturrahman: Ikon Aceh yang Dibangun Ulang dari Abu Perang

Author

Masjid Raya Baiturrahman—dulu jadi benteng perang, kini jadi kebanggaan Aceh. Dari terbakar, dibangun ulang, sampai megah seperti sekarang. (Dok : Salsa Wisata)

ACEH - Di jantung Kota Banda Aceh, berdiri sebuah bangunan yang bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang masyarakat Serambi Mekkah. Masjid Raya Baiturrahman, dengan kubah hitam megah dan halaman luasnya, menjadi pusat spiritual, budaya, dan identitas orang Aceh sejak ratusan tahun lalu.

Masjid ini dikenal sebagai masjid terbesar di Aceh, mampu menampung hingga sekitar 30.000 jemaah. Arsitekturnya mengadopsi gaya Kesultanan Turki Utsmani, tampil anggun dengan kolam air mancur dan lanskap yang menguatkan kesan kemegahan.

Sejak awal berdirinya, masjid ini tak pernah lepas dari dinamika sejarah Aceh. Ada dua versi mengenai tahun pembangunannya. Sebagian sumber menyebut 1612, tepat ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa. Namun catatan lain mengungkap masjid pertama sudah ada sejak 1292, dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada masanya, Masjid Baiturrahman berfungsi sebagai masjid kerajaan, dengan atap jerami berlapis-lapis—sebuah ciri khas arsitektur Aceh tempo dulu.

Sejarah panjang masjid ini mencapai titik penting pada 10 April 1873, saat Kolonial Hindia Belanda menyerang Kesultanan Aceh. Dalam situasi perang, masyarakat menjadikan bangunan masjid asli sebagai benteng pertahanan. Dari dalam masjid itulah rakyat Aceh melakukan perlawanan. Pasukan Belanda kemudian membalas dengan menembakkan suar ke atapnya yang terbuat dari jerami, hingga masjid terbakar habis. Aktivitas ibadah pun sementara dipindahkan ke Masjid Baiturrahim Ulee Lheue.

Baca juga: Masjid Tuha Indrapuri: Masjid Tertua Aceh yang Berdiri di Atas Candi Hindu-Buddha

Dalam upaya meredam kemarahan masyarakat Aceh, Jenderal Van Swieten berjanji akan membangun kembali masjid tersebut sebagai bentuk permintaan maaf. Pembangunan dimulai pada 9 Oktober 1879, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Jenderal Van der Heyden bersama Tengku Qadhi Malikul Adil, yang kelak menjadi imam pertama di masjid itu. Proses ini selesai pada 27 Desember 1881, bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah.

Pada awalnya, warga Aceh menolak beribadah di masjid yang baru karena dianggap sebagai bangunan yang dibuat oleh musuh. Namun waktu membuktikan bahwa Masjid Raya Baiturrahman justru menjadi simbol keteguhan dan kebanggaan masyarakat Banda Aceh—ikon yang tetap bertahan melewati perang, penjajahan, hingga berbagai bencana.

Hari ini, Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya bangunan megah yang menyambut setiap tamu yang datang ke Banda Aceh. Ia adalah monumen yang mengingatkan bahwa identitas dan keteguhan masyarakat Aceh selalu mampu bertahan, bahkan ketika sejarah berubah sedemikian dramatis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU