Aceh – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, perhatian publik kembali tertuju pada keberadaan kelenteng dan vihara di Banda Aceh. Di tengah penerapan Syariat Islam, kota ini tetap menjadi ruang hidup bagi keberagaman budaya dan keyakinan, termasuk bagi komunitas Tionghoa yang telah lama menetap di Aceh.
Kawasan Peunayong dikenal sebagai pusat aktivitas warga Tionghoa di Banda Aceh. Di wilayah inilah sejarah, tradisi, dan toleransi tumbuh berdampingan, menjadikan Peunayong sebagai salah satu wajah keberagaman di jantung ibu kota Provinsi Aceh.
Bagi etnis Tionghoa, kelenteng dan vihara tidak sekadar berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pelestarian nilai budaya dan spiritual. Di Banda Aceh, keberadaan tempat ibadah Tri Dharma—yang mencakup ajaran Buddha, Tao, dan Kong Hu Chu—menjadi bukti bahwa praktik keagamaan dapat berjalan selaras dengan lingkungan sosial yang berbeda.
Selain menjadi ruang ibadah, kelenteng juga berperan sebagai tempat berkumpul komunitas, memperkuat hubungan sosial, serta menjaga tradisi turun-temurun agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Salah satu kelenteng yang paling dikenal di Banda Aceh adalah Vihara Dharma Bhakti, yang berlokasi di kawasan Peunayong. Tempat ibadah ini tercatat sebagai kelenteng tertua dan terbesar bagi komunitas Tionghoa di Aceh.
Secara fungsi dan arsitektur, tempat ini sering disebut vihara, tapi dalam praktik budaya masyarakat, ia juga berfungsi sebagai kelenteng—tempat ibadah dan pusat tradisi Tionghoa, termasuk saat Imlek.
Vihara Dharma Bhakti memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Awalnya, tempat ibadah ini berdiri pada tahun 1878 di kawasan Pantai Cermin, Ulee Lheue, dengan nama Ta Pek Kong. Namun, situasi keamanan dan konflik pada masa itu menyebabkan bangunan tersebut mengalami kerusakan. Pada tahun 1936, vihara kemudian dipindahkan ke kawasan Peunayong dan digunakan hingga saat ini.
Baca juga: Imlek 2026 di Banda Aceh: Harmoni Budaya dan Toleransi di Kawasan Peunayong
Saat ini, Vihara Dharma Bhakti beralamat di Jl. T.P. Polem No. 70, Gampong Laksana, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, dan dikelola secara kelembagaan melalui yayasan.
Dalam aktivitas sehari-hari, vihara ini rutin menggelar kebaktian umum bagi umat. Menjelang perayaan besar seperti Imlek, persiapan biasanya dilakukan secara bertahap, mulai dari pembersihan area ibadah hingga penataan ornamen khas, seperti lampion merah.
Pada perayaan Imlek, Vihara Dharma Bhakti kerap menjadi titik berkumpul warga Tionghoa di Banda Aceh untuk beribadah dan bersilaturahmi. Seluruh rangkaian kegiatan dijalankan secara tertib dan tetap menghormati lingkungan sekitar.
Keberadaan Vihara Dharma Bhakti sering dipandang sebagai simbol toleransi beragama di Aceh. Meski berada di wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, aktivitas ibadah umat Tionghoa dapat berlangsung dengan aman dan damai.
Kelenteng ini juga memiliki nilai historis tersendiri karena menjadi salah satu bangunan yang tetap berdiri pascatsunami 2004. Hal tersebut menjadikannya saksi bisu perjalanan Banda Aceh dalam menghadapi bencana sekaligus merawat keberagaman.
Dalam setiap perayaan besar, pengamanan dilakukan dengan melibatkan aparat guna memastikan kegiatan ibadah berjalan lancar dan kondusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber