ACEH - Jika ditanya, apa salah satu peristiwa di Aceh yang membuat wibawa Belanda luntur pada zaman penjajahan? Salah satu jawabannya adalah peristiwa kapal Nisero, atau Belanda menyebutnya Nisero Quaestie.
Apa yang terjadi sehingga Belanda malu? Semuanya berawal dari kapal dagang Nisero pada tahun 1883 yang berlayar dari Surabaya menuju Eropa membawa muatan gula.
Berdasarkan arsip Belanda De Niserozaak, kapal tersebut karam saat berlayar di lepas pantai Barat Aceh pada 8 November 1883. Sebanyak 28 awak kapal termasuk kapten W.S. Woodhouse menyelamatkan diri menggunakan sekoci hingga ke pinggir pantai. Mereka bermalam disana dengan membuat kemah sebagai tempat perlindungan sementara.
Keesokan paginya, mereka dikejutkan dengan kedatangan Raja Teunom, yaitu Teuku Imeum Muda dan pasukannya. Mereka datang bukan untuk menolong, melainkan hendak menyandera kapten dan para awak kapal. Penyanderaan itu mendapat perhatian yang besar di Eropa kala itu.
Baca juga: Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!
Peristiwa penyanderaan tersebut merupakan bentuk perlawanan dan pembuktian kepada Belanda bahwa wilayah Teunom merupakan wilayah yang merdeka walaupun Raja Teunom sempat terpaksa menandatangani surat penundukan oleh Belanda.
Apa akibat dari peristiwa itu? Peristiwa ini menjadi isu diplomatik yang serius antara Inggris dan Belanda. Inggris menuntut Belanda untuk membebaskan para sandera.
Awalnya Belanda mengirim pasukannya ke Teunom, namun Raja Teunom memberikan ancaman yang membuat Belanda dilema. Apabila Belanda menyerang maka semua tawanan akan dibunuh. Belanda terpaksa mundur untuk menyelamatkan reputasinya yang terlanjur anjlok.
Saking alot dan sulitnya, Belanda tak mampu membujuk Raja Teunom untuk membebaskan sandera. Peristiwa itu mencoreng nama baik Belanda di Eropa yang pada waktu itu digembor-gemborkan sudah menguasai Aceh, namun gagal membebaskan sandera.
Raja Teunom kemudian melepaskan kapten kapal, Woodhouse dan beberapa awak kapal yang sakit untuk menyampaikan pesan kepada Belanda bahwa Raja menginginkan uang tebusan dan Belanda harus membuka blokade atas pelabuhan-pelabuhan Teunom. Raja Teunom juga menuntut agar Inggris tidak akan membalas. Namun syarat yang diberikan Raja membuat Belanda keberatan dengan alasan akan melemahkan posisi mereka. Inggris dan Belanda juga tidak mampu membayar uang tebusan yang begitu besar.
Pemerintah Inggris kemudian melangkah sendiri dan mengabaikan Belanda yang sudah tidak mampu menguasai keadaan. Kapal perang Inggris, Pegasus berlayar ke Teunom untuk langsung berdiplomasi dengan Raja Teunom, agar para sandera dibebaskan. Namun lagi-lagi diplomasi tersebut gagal.
Karena sulitnya bernegosiasai dengan Raja Teunom, akhirnya Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh, Laging Tobias meminta Teuku Umar untuk melakukan misi penyelamatan para sandera. Teuku Umar meminta logistik dan persenjataan yang banyak dengan alasan Raja Teunom sangat kuat.
Namun ternyata Teuku Umar yang pada saat itu sedang berpura-pura memihak Belanda membunuh para serdadu Belanda yang ikut dan membawa kabur semua logistik dan persenjataan Belanda. Bahkan Teuku Umar dan pasukannya meminta Raja Teunom untuk menaikkan jumlah uang tebusan.
Karena tak ada cara yang lain, setelah 10 bulan penyanderaan akhirnya Laging Tobias dan Maxwel memenuhi semua tuntutan Raja Teunom. Mereka membayar uang tebusan sebesar 100.000 gulden atau 40.000 dolar selat untuk pembebasan tawanan dan Belanda membuka blokade terhadap perairan Teunom.
Angka itu tergolong sangat besar pada zamannya dan menjadi simbol kekalahan diplomatik serta penurunan wibawa Belanda di mata dunia.
Hingga kini, peristiwa itu tercatat dibanyak catatan sejarah. Seperti catatan yang ditulis oleh W Bradley dalam buku The Wreck of the Nisero and Our Captives in Sumatera, juga dalam buku HC Van Der Wijck, De Niserozaak. Kedua buku tersebut diterbitkan di Belanda pada tahun 1884. Selain itu juga ditulis oleh Kielstra dalam buku Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia