Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 15 JULI 2025 • 14:54 WIB

Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!

Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!Foto asli Teuku Umar pada tahun 1980. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Teuku Umar lahir di Meulaboh, Aceh Barat pada tahun 1854 dari pasangan Uleebalang Teuku Achmad Mahmud yang menikah dengan adik perempuan Raja Meulaboh, yakni Cut Mohani. 

Walaupun ia berasal dari Aceh, namun ternyata nenek moyangnya berasal dari Minangkabau, yaitu Datuk Makhudum Sati.

Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, namun ia mempunyai otak yang cerdas, pemberani dan jagoan dikalangan anak-anak seusianya. Karakternya terbentuk dari situasi Aceh pada saat itu, ada ketegangan politik, tekanan diplomatik, dan tanda-tanda ekspansi kolonial. Wataknya yang keras dan pemberani terbawa hingga ia menginjak usia dewasa.

Pada usia 19 tahun, ia telah mengangkat senjata untuk terjun di pertempuran Perang Aceh yang meletus pada tahun 1873. Awal perjuangannya dimulai dikampung halamannya sendiri. Pada usia yang masih belia ia diangkat menjadi keuchik gampong atau dalam bahasa Indonesia disebut kepala desa. Perjuangannya terus melebar ke arah Aceh Barat lainnya. 

Semasa hidupnya ia menikah 3 kali. Pada usia 20 tahun ia menikah pertama kali dengan putri seorang Uleebalang Glumpang, yaitu Nyak Sofiah. Untuk menaikkan statusnya, beberapa tahun kemudian ia menikah dengan putri Panglima Sagi XXV Mukim yang bernama Nyak Malighai. 

Tahun 1880 ia menikah dengan sepupunya sendiri yang bernama Cut Nyak Dhien yang pada waktu itu sudah menjadi janda setelah suaminya yang bernama Teuku Ibrahim Lamnga tewas di medan perang. Dengan Cut Nyak Dhien inilah semangatnya untuk berjuang melawan penjajah Belanda semakin membara. Keduanya kompak menyerang dan menaklukkan pos-pos Belanda. Serangan dari pasangan ini membuat Belanda kewalahan. 

Baca juga: Bupati Aceh Besar Ziarah ke Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

Perdamaian Dengan Belanda

Hal yang tak disangka-sangka, Belanda dan pasukan Teuku Umar akhirnya berdamai pada tahun 1883. Gubernur Van Teijn saat itu ingin memanfaatkan Teuku Umar untuk merebut hati rakyat Aceh.

Teuku Umar yang dulunya menyerbu pos-pos Belanda, kini berbalik menyerang pos-pos pertahanan Aceh. Atas bantuannya tersebut, Teuku Umar mendapat kepercayaan dari Belanda. Belanda mengabulkan permintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit termasuk seorang Panglima Laut sebagai tangan kanannya. 

Pada tahun 1884 kapal dagang Inggris “Nisero” karam di pesisir Teunom. Awak kapal beserta kaptennya disandera oleh Raja Teunom sebagai bukti bahwa Teunom adalah wilayah yang merdeka dari Belanda. 

Peristiwa ini menjadi isu diplomatik yang serius antara Inggris dan Belanda. Inggris menuntut Belanda untuk membebaskan tawanan Raja Teunom. 

Saking alot dan sulitnya, Belanda tak mampu membujuk Raja Teunom untuk membebaskan sandera. Peristiwa itu mencoreng nama baik Belanda di Eropa yang pada waktu itu digembor-gemborkan sudah menguasai Aceh, namun gagal membebaskan sandera. 

Karena sulitnya bernegosiasai dengan Raja Teunom, akhirnya Belanda meminta Teuku Umar untuk membebaskan para tawanan. Teuku Umar meminta logistik dan persenjataan yang banyak dengan alasan Raja Teunom sangat kuat. 

Lagi-lagi Belanda mengabulkan permintaan Teuku Umar. Dengan perbekalan perang yang cukup banyak, Teuku Umar berangkat dengan kapal Bengkulen ke Teunom dengan membawa 32 orang serdadu Belanda dan beberapa panglimanya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!