ACEH - Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, bersama jajarannya menghadiri Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan berlangsung pada 7–9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung.
Kegiatan ini mengangkat tema “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi.” Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menilai kegiatan ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan industri nasional berbasis sains, riset, dan inovasi teknologi.
Ia menyoroti pentingnya penguatan kapasitas teknologi dan talenta nasional sebagai fondasi transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Dengan potensi sumber daya alam yang luar biasa, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan hilirisasi dan lompatan industrialisasi bernilai tambah tinggi.
Baca juga: Klinik USK Upgrade Layanan: Staf Dibekali Ilmu Service Excellence
“Transformasi ini diyakini sebagai langkah kunci memperkuat daya saing bangsa dan mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan,” ucapnya.
Konvensi ini menjadi forum strategis untuk merancang peta jalan transformasi industri nasional sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, masyarakat, dan media.
Agenda utama mencakup pembahasan dan perumusan peta jalan riset serta inovasi di delapan sektor prioritas, yakni energi; pertahanan; digitalisasi (termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor); hilirisasi dan industrialisasi; kesehatan; pangan; maritim; serta material dan manufaktur maju.
KSTI 2025 mempertemukan ribuan peserta dari kalangan ilmuwan, teknokrat, pelaku industri, pembuat kebijakan, serta mitra internasional. Beberapa tokoh yang hadir sebagai pembicara di antaranya: Konstantin Novoselov, Brian Paul Schmidt, Chennupati Jagadish, dan Lam Khin Yong, para menteri strategis dari Kabinet Indonesia Maju, serta direktur BUMN.
Baca juga: Era Baru Digital di USK: MyUSK Siap Satukan Layanan Akademik & Bisnis
Sebagai informasi, Sir Konstantin Sergeyevich Novoselov adalah fisikawan berdarah Rusia–Inggris yang meraih Penghargaan Nobel Fisika pada 2010 berkat penelitiannya tentang graphene bersama Andre Geim.
Sementara itu, Prof. Brian Paul Schmidt adalah astrofisikawan kelahiran Amerika yang menjadi warga negara Australia. Ia menerima Penghargaan Nobel Fisika pada 2011 atas penemuannya bahwa ekspansi alam semesta berlangsung semakin cepat, yang menjadi bukti keberadaan energi gelap.
Lebih lanjut, Prof. Chennupati Jagadish adalah fisikawan berdarah India yang dikenal luas atas kontribusinya pada optoelektronika semikonduktor dan nanoteknologi. Saat ini ia menjabat sebagai Presiden Australian Academy of Sciences dan Profesor Emeritus Fisika di Sekolah Riset Fisika Universitas Nasional Australia.
Kemudian, Prof. Lam Khin Yong adalah fisikawan asal Singapura yang dikenal luas atas kontribusinya pada computational mechanics dan computational nanoscience/BioMEMS/Hydrogels. Saat ini ia menjabat sebagai Vice President of Industry sekaligus President’s Chair in Mechanical and Aerospace Engineering di Nanyang Technological University.
Pada kesempatan ini, Rektor USK menyambut baik terselenggaranya KSTI 2025. Ia menilai kegiatan ini adalah bentuk komitmen bersama untuk mengembangkan ekosistem riset dan inovasi yang mampu mendukung pembangunan bangsa. Rektor berharap kegiatan ini dapat berjalan sukses dan memberi kontribusi nyata bagi perkembangan riset dan inovasi di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Usk.ac.id