Rabu, 15 OKTOBER 2025 • 23:00 WIB

Aceh Siap Jadi Pusat Industri Pangan ASEAN, Mualem Paparkan Peluang Besar di Tiongkok

Author

Gubernur Aceh Muzakir Manaf, disambut hangat di Zhengzhou saat memaparkan peluang investasi strategis di ajang China–ASEAN Food & Agricultural Cooperation Development Conference 2025. (Dok : Humas Aceh)
ACEH -
Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, memaparkan berbagai peluang investasi strategis di Aceh di hadapan para investor dari Tiongkok dan negara-negara ASEAN.

Kesempatan itu berlangsung dalam ajang China (Henan)–ASEAN Food and Agricultural Cooperation Development Conference 2025 yang digelar di Zhengzhou, Senin (13/10/2025).

Dalam forum internasional tersebut, Mualem—sapaan akrab Gubernur Muzakir Manaf—menekankan pentingnya kolaborasi konkret antarnegara untuk memperkuat ketahanan pangan serta mendorong investasi berkelanjutan di sektor pertanian dan industri pengolahan.

Salah satu agenda utama acara itu adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Pembangunan Aceh (PEMA), Badan Usaha Milik Daerah milik Pemerintah Aceh, dengan Zhongke Holdings Green Technology Co., Ltd, perusahaan teknologi asal Henan yang bergerak di bidang inovasi pertanian ramah lingkungan.

Kemitraan tersebut berfokus pada pembangunan kawasan industri unggas dan telur berteknologi tinggi serta ramah lingkungan di Aceh. Proyek ini disebut sebagai langkah nyata Pemerintah Aceh dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian modern.

“Konferensi ini bukan sekadar tempat berdiskusi, tetapi katalisator untuk bertindak. Hari ini, kita bergerak dari dialog menuju kemitraan konkret,” ujar Mualem.

Baca juga: Pelantikan Pejabat Aceh 2025: Mualem Minta Aksi, Bukan Janji!

Gubernur menyebut proyek kerja sama tersebut sebagai contoh cemerlang kolaborasi bermanfaat yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat transfer teknologi, serta memperluas jejaring ekonomi Aceh di tingkat internasional.

Mualem juga memanfaatkan forum tersebut untuk memperkenalkan potensi sumber daya alam Aceh yang melimpah, seperti emas, tembaga, besi, dan batu bara, serta peluang investasi di sektor minyak dan gas bumi yang selama ini menjadi salah satu pilar ekonomi utama daerah.

Menurutnya, posisi geografis Aceh yang strategis karena berada di jalur utama pelayaran internasional dan pintu gerbang barat Indonesia menjadi nilai tambah besar bagi para investor asing.

“Kemitraan ini menawarkan gerbang strategis menuju pasar Indonesia dan ASEAN yang lebih luas bagi para mitra dari Tiongkok,” ujar Mualem.

Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Aceh berkomitmen menciptakan iklim investasi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan, dengan dukungan penuh dari kebijakan dan regulasi pemerintah pusat.

“Mari kita terus membangun jembatan kerja sama, inovasi, dan persahabatan ini demi kemajuan bersama,” tutupnya.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Gubernur turut didampingi sejumlah pejabat dan delegasi bisnis utama dari Aceh, antara lain Rahmadhani dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Staf Ahli Gubernur Aceh Teuku Irsyadi, Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (PEMA) Mawardi Nur, serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh Muhammad Iqbal. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Aceh

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU