Jumat, 27 MARET 2026 • 22:36 WIB

USK dan Kyoto University Luncurkan Buku MemoryGraph, Jaga Kenangan Tsunami Aceh

Author

Buku MemoryGraph hasil kolaborasi USK dan Kyoto University sebagai upaya menjaga ingatan kolektif Tsunami Aceh melalui dokumentasi foto.(Dok : USK)

ACEH - Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Kyoto University melalui Center for Southeast Asian Studies menjalin kolaborasi internasional dengan meluncurkan buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto di Banda Aceh (23/3/2026).

Peluncuran buku tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya (PRISB), Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan, serta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual, tetapi juga menjadi panduan praktis yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga ingatan kolektif. Inisiatif ini lahir dari kesadaran bahwa lebih dari dua dekade setelah peristiwa Tsunami Aceh 2004, masyarakat Aceh menghadapi tantangan baru berupa memudarnya ingatan kolektif.

Di tengah pesatnya pembangunan dan perubahan lanskap pascabencana, jejak masa lalu perlahan menghilang, baik secara fisik maupun dalam kesadaran generasi muda. Melalui pendekatan MemoryGraph, masyarakat diajak untuk mempertemukan foto masa lalu dengan kondisi terkini dari lokasi yang sama, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital.

Metode ini menawarkan cara baru dalam memahami lanskap, tidak hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai arsip kehidupan yang merekam perubahan, kehilangan, serta proses pemulihan.

Baca juga: Mirza Tabrani Resmi Jadi Rektor USK 2026–2031, Bupati Aceh Besar Soroti Pentingnya Sinergi Akademik

Salah satu penggagas pendekatan ini, Yoshimi Nishi, menyebut bahwa lanskap menyimpan jejak kehidupan yang sering kali luput dari perhatian. Menurutnya, bencana tidak hanya mengubah ruang, tetapi juga perlahan menghapus kenangan yang melekat di dalamnya.

“Oleh karena itu, dokumentasi visual menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga ingatan tetap hidup,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Alfi Rahman dari USK. Ia menilai bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga perlu memperkuat pemahaman kolektif sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat.

“ MemoryGraph , menjadi jembatan antara arsip, pengalaman masyarakat, dan pembelajaran lintas generasi,” ucapnya.

Dukungan juga datang dari Rektor USK, Mirza Tabrani, yang menilai pendekatan tersebut penting tidak hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran bagi generasi mendatang dalam menghadapi bencana.

Sementara itu, Hiroyuki Yamamoto dari Kyoto University menyatakan bahwa MemoryGraph membuka ruang baru bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam merawat dan mewariskan memori kolektif.

Kepala ANRI, Mego Pinandito, menambahkan bahwa pendekatan ini mampu menghidupkan kembali arsip melalui keterhubungan langsung dengan pengalaman masyarakat secara visual dan partisipatif.

Peluncuran buku ini turut dirangkaikan dengan diskusi publik yang mempertemukan ilmuwan, arsiparis, dan praktisi kebencanaan. Melalui MemoryGraph, setiap individu diharapkan dapat berperan aktif dalam mendokumentasikan serta membagikan ingatan dari lingkungannya sebagai bagian dari upaya menjaga sejarah dan memperkuat ketahanan masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: USK

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU