Selasa, 31 MARET 2026 • 20:18 WIB

Halal Bihalal Kemenag Aceh Selatan: Momen Hangat Perkuat Kebersamaan Usai Ramadhan

Author

Suasana hangat penuh kekeluargaan dalam Halal Bihalal Kemenag Aceh Selatan, momen saling memaafkan dan mempererat silaturahmi usai Ramadhan. (Dok : Kemenag Aceh)

ACEH - Suasana pagi yang hangat dan penuh keakraban terasa kental di Mushola Al-Ikhlas, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, Senin (30/3/2026). Seluruh jajaran pegawai, para kepala madrasah, kepala KUA kecamatan, hingga organisasi profesi seperti APRI, IPARI, serta Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh Selatan, berkumpul dalam momentum Halal Bihalal bertema “Menguatkan Kebersamaan dalam Kehangatan Idulfitri.”

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial pasca Ramadhan. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi ruang refleksi untuk merajut kembali hubungan yang mungkin sempat merenggang, sekaligus memperkokoh nilai kebersamaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Di tengah padatnya rutinitas kerja, momen ini menjadi jeda yang mengajak setiap individu kembali pada esensi Idulfitri, yakni kesucian hati dan keikhlasan dalam saling memaafkan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, Khairul Huda, SHI, MSi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kebersamaan merupakan fondasi utama dalam membangun kinerja dan pelayanan yang harmonis. Ia menyebutkan bahwa Halal Bihalal menjadi wasilah untuk menyatukan hati, bukan sekadar mempertemukan secara fisik.

“Seringkali kita mudah mengucapkan maaf, tetapi belum tentu menghadirkannya dalam hati. Padahal, memaafkan itu sejatinya adalah keikhlasan yang tumbuh dari dalam diri. Momentum ini mengajarkan kita untuk kembali pada fitrah, menjadi pribadi yang bersih, tulus, dan saling menguatkan,” ujarnya.

Baca juga: Hari ke-10 Syawal, Kakanwil Kemenag Aceh Gelar Open House dan Santuni Anak Yatim

Ia juga mengajak seluruh jajaran agar semangat kebersamaan yang terbangun tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan terus diwujudkan dalam pola kerja sama yang harmonis dan berkelanjutan.

Kehangatan suasana semakin terasa saat tausiah disampaikan oleh Tengku Ismail dari Labuhanhaji, Aceh Selatan. Dengan gaya penyampaian yang sederhana namun menyentuh, ia mengingatkan agar Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai titik awal perubahan diri yang lebih baik.

Menurutnya, keberhasilan Ramadhan tidak semata diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan selama sebulan, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai tersebut mampu dipertahankan setelahnya.

“Idulfitri adalah cermin. Kita diajak melihat diri sendiri, apakah ketaatan kita meningkat, apakah hati kita lebih lembut, dan apakah amal kebaikan yang kita lakukan mampu kita jaga secara istiqamah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tantangan terbesar setelah Ramadhan adalah menjaga konsistensi dalam berbuat kebaikan. Oleh karena itu, setiap individu dituntut memiliki komitmen untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan saling berjabat tangan dan berpelukan, sebagai simbol saling memaafkan dan mempererat kembali tali silaturahmi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemenag Aceh

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU