Laksamana Malahayati, wanita pertama di dunia yang menjadi laksamana. (Dok : Wikipedia)
ACEH - Sejak dulu, wanita-wanita Aceh dikenal tangguh dan berani. Para Srikandi Aceh bahkan tak segan-segan turun ke medan perang untuk melawan penjajah. Wanita-wanita Aceh yang terkenal berani mempunyai peran penting dalam kisah penjajahan.
Di belahan bumi lain saat perempuan dianggap warga kelas dua dan dikungkung dalam diskriminasi, wanita-wanita Aceh justru berhasil mematahkan stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memegang peran penting dalam perjuangan dan kepemimpinan.
Mereka dapat mengubah pandangan masyarakat tentang peran gender dan mampu berdiri sejajar dengan para pejuang pria untuk memegang senjata, menunggang kuda, dan menerjang medan perang tanpa gentar.
Hal ini terbukti dengan banyaknya pahlawan wanita dari Aceh yang mempunyai semangat tinggi berjuang bersama suami mereka. Bukan hanya sebagai pendamping, tapi berdiri bersama untuk membela tanah airnya.
Walaupun sang suami gugur di medan perang, mereka tak berlarut-larut dalam kesedihan. Kehilangan suami justru dijadikan kayu bakar yang semakin membara untuk melawan penjajah.
Salah satu kisah heroik datang dari wanita terhormat dari kalangan Kesultanan Aceh yang bernama Keumalahayati. Ia lebih dikenal dengan nama Malahayati, lahir di Aceh Besar pada 01 Januari 1550. Ia dibesarkan dalam lingkungan istana yang mengutamakan pendidikan militer dan strategi perang.
Baca juga: Sejarah dan Keunikan Tari Ratoh Jaroe, Warisan Budaya Tak Benda dari Aceh
Sejak kecil ia sudah menempuh pendidikan militer khususnya angkatan laut di akademi Baitul Maqdis. Bantul Maqdis adalah akademi militer Kesultanan Aceh untuk melatih calon perwira dan pemimpin militer.
Di sana, ia diajarkan strategi perang, taktik maritim, serta seni pelayaran dan pertempuran di lautan. Hal inilah yang kelak membentuknya menjadi seorang panglima angkatan laut.
Ia menikah dengan Laksamana Zainal Abidin. Bersama sang suami, ia ikut bertempur melawan penjajah Portugis. Ia bukan hanya berperan sebagai pendamping sang suami, tapi juga sebagai pemimpin dan penggerak rakyat Aceh dalam melawan penjajah Portugis.
Sang suami kemudian gugur pada pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Hal ini membuatkan semakin bersemangat dalam melawan penjajahan.
Ia mengusulkan kepada Sultan untuk membentuk pasukan yang berisi janda-janda yang suaminya gugur di medan perang. Usulnya disetujui oleh Sultan Alaydin Ali Riayat Syah IV Saydil Muqammil. Pasukannya berisi 2000 pejuang wanita yang dinamakan Inong Balee.
Sultan kemudian mengangkat Malahayati menjadi Laksamana dan ini menjadikan ia sebagai wanita pertama di dunia yang menjadi laksamana. Mereka mempunyai 100 kapal dengan kapasitas 400 orang pada masing-masing kapal.
Laksamana Malahayati sendirilah yang turun untuk melatih pasukan Inong Balee hingga menjadi pasukan yang kuat. Mereka mempunyai benteng yang digunakan melatih pasukan. Dari benteng itulah, Inong Balee berubah jadi janda-janda pejuang menjadi laskar perang yang ditakuti oleh di perairan pesisir Aceh Besar dan Selat Malaka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia