Mandi wajib sering dilakukan, namun belum tentu benar. (Dok : Kemenag RI)
ACEH - Menjelang Ramadan atau setelah mengalami hadas besar, satu hal yang hampir selalu dicari ulang oleh masyarakat adalah tata cara mandi wajib. Padahal praktiknya sudah diajarkan sejak kecil. Namun ketika benar-benar harus dilakukan, muncul lagi pertanyaan: niatnya bagaimana, harus wudhu dulu atau tidak, rambut harus dibuka atau cukup disiram?
Mandi wajib atau mandi besar adalah cara bersuci yang diwajibkan ketika seseorang mengalami kondisi tertentu, di antaranya:
Mandi wajib bukan sekadar mandi bersih. Dalam fikih, ini adalah proses menghilangkan hadas besar agar seseorang kembali dalam keadaan suci dan sah menjalankan ibadah seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Karena itu, yang dinilai bukan hanya basahnya tubuh, tetapi juga cara dan niatnya.
Kesalahan paling sering terjadi justru pada bagian yang tidak terlihat: niat. Banyak orang baru membaca niat setelah selesai mandi. Padahal niat hadir di awal saat air pertama kali mengenai tubuh.
Niat cukup dihadirkan dalam hati saat mulai menyiram air ke tubuh. Melafalkannya diperbolehkan untuk membantu menghadirkan kesungguhan.
Arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari lillahi ta’ala
Arti
Saya berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.
Arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitul ghusla li raf’i hadatsil haid lillahi ta’ala
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber