ACEH - Ramadhan di Banda Aceh selalu menghadirkan suasana berbeda. Sejak pukul empat sore, jalanan mulai dipenuhi kendaraan. Sebagian warga terlihat membawa keluarga, sebagian lagi berkumpul bersama teman. Tujuannya sama: mengisi waktu menjelang azan Magrib.
Ngabuburit bukan sekadar menunggu berbuka. Di kota ini, ia sudah menjadi bagian dari tradisi musiman yang selalu dirindukan.
Beberapa titik hampir tak pernah absen dari keramaian setiap tahunnya.
Setiap sore Ramadhan, halaman Masjid Raya berubah menjadi ruang publik terbuka. Warga duduk berkelompok di bawah payung-payung besar, anak-anak berlarian kecil, sementara pedagang takjil mulai menggelar dagangan di sekitar kawasan.
Banyak yang datang bukan hanya untuk berbuka, tetapi juga menikmati ketenangan suasana religius menjelang Magrib. Saat azan berkumandang, sebagian berbuka di halaman, sebagian lainnya masuk ke dalam masjid untuk salat berjamaah.
Lapangan kota ini selalu jadi magnet. Ada yang berolahraga ringan, ada yang sekadar duduk di tepi lapangan sambil berbincang. Sore hari terasa lebih hidup karena pedagang minuman segar dan gorengan berjejer di sekitar area.
Blang Padang cocok bagi yang ingin suasana terbuka dengan angin yang cukup sejuk.
Bagi pecinta suasana pantai, Ulee Lheue hampir tak pernah sepi saat Ramadhan. Menjelang matahari terbenam, langit berubah warna keemasan. Banyak warga memanfaatkan momen itu untuk berfoto atau sekadar duduk menghadap laut.
Baca juga: Banyak yang Belum Tahu, Begini Niat dan Tata Cara Mandi Wajib
Pedagang minuman dingin dan camilan ringan biasanya mulai ramai sekitar pukul lima sore.
Jika ingin suasana lebih santai, taman ini bisa menjadi pilihan. Pepohonan rindang membuat udara terasa lebih sejuk. Banyak keluarga memilih lokasi ini karena relatif nyaman untuk anak-anak.
Meski tidak seramai titik lain, Putroe Phang tetap jadi opsi menarik untuk ngabuburit tanpa terlalu berdesakan.
Ramadhan identik dengan berburu jajanan berbuka. Kawasan Peunayong termasuk yang paling padat menjelang Magrib. Deretan pedagang menjual aneka kue tradisional, kolak, es buah, hingga lauk siap santap.
Warga biasanya datang lebih awal agar tidak kehabisan menu favorit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber