Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 23:15 WIB

Rencong Tak Pernah Tumpul: Jejak Perlawanan Cut Nyak Dhien

Author

Cut Nyak Dhien, pemimpin gerilya pejuang Aceh. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Jika berbicara tentang Perang Aceh, nama Cut Nyak Dhien tidak bisa diabaikan. Sosoknya begitu fenomenal hingga membuat Belanda kewalahan menghadapi strategi dan semangat juangnya.

Kiprahnya di medan perang adalah salah satu kisah heroik dalam Perang Aceh. Ia bukan hanya istri dan anak seorang pejuang, tetapi juga pemimpin perjuangan.

Semangat juangnya semakin membara ketika Belanda memulai Perang Aceh (1873–1904), salah satu perang paling panjang dan berdarah dalam sejarah kolonial Belanda di Nusantara.

Kematian suami pertamanya, Teuku Chik Ibrahim Lamnga, pada tahun 1878, membuatnya terobsesi untuk memerangi Belanda. Dilansir dari Sagoe TV, sejarawan Aceh Dr. M. Adli Abdullah mengatakan bahwa ketika Teuku Ibrahim meninggal, Cut Nyak Dhien tidak menguburkan suaminya selama hampir satu minggu.

“Jangan kuburkan Abangda Ibrahim sebelum ada pengganti Panglima Perang. Siapa yang bisa menggantikan Abangda Ibrahim, saya siap menjadi istrinya,” begitu kata Cut Nyak Dhien.

Baca juga: Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!

Lalu muncullah sepupunya, yaitu Teuku Umar, yang bersedia menggantikan posisi Teuku Ibrahim dan membalaskan dendam atas kematiannya. Cut Nyak Dhien meminta agar diizinkan ikut berperang, dan permintaan itu disetujui oleh Teuku Umar. Barulah Teuku Ibrahim dimakamkan, dan pada tahun 1880 bersatulah Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien dalam pernikahan.

Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga menjadi simbol bahwa perjuangan melawan Belanda akan dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga.

Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin perang gerilya, mengorganisasi pasukan, menyuplai logistik, dan menyusun taktik perang.

Namun, pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran tak seimbang di pinggiran Kota Meulaboh.

Foto asli Teuku Umar pada tahun 1980. (Dok : Wikipedia)

Ketika Teuku Umar gugur melawan Belanda, putri mereka, Cut Gambang, tak kuasa menahan tangis. Melihat hal itu, Cut Nyak Dhien memeluk putrinya sambil berkata penuh ketegasan:

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata untuk seorang syahid. Orang yang syahid tidak mati. Mereka senantiasa hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”

Nasihat yang terkenal ini mencerminkan prinsip hidup dan keteguhan hati Cut Nyak Dhien sebagai pejuang sekaligus ibu. Menurutnya, kematian dalam perjuangan bukanlah duka, melainkan kehormatan. Kematian suami bukan akhir dari perlawanan, melainkan panggilan untuk terus berdiri dan melanjutkan jihad melawan penjajahan.

Dengan gugurnya Teuku Umar, Cut Nyak Dhien mengambil alih kepemimpinan. Dengan sisa pasukan, ia bergerilya dari satu hutan ke hutan lainnya. Dengan strategi yang cerdik, ia berhasil menjebak dan menyulitkan pergerakan pasukan Belanda di medan yang asing bagi mereka.

Ia rela menjual seluruh harta bendanya demi membiayai perang yang ia yakini sebagai jihad fi sabilillah. Ia juga diam-diam mengumpulkan emas dan uang dari orang-orang kaya serta para ulama untuk membeli senjata dari saudagar Portugis.

Baca juga: Cut Mutia : Kisah Cinta dan Perjuangan Srikandi dari Tanah Rencong

Kiprahnya dalam memimpin pasukan membuatnya menjadi buronan kelas kakap. Saking marahnya, Belanda masuk ke desa-desa untuk mencari Cut Nyak Dhien. Banyak warga sipil yang dibunuh, dan desanya dibumihanguskan pada saat itu.

Tahun terus berjalan, rambutnya memutih, dan tubuhnya semakin renta. Penyakit yang menggerogotinya tidak membuat semangat Cut Nyak Dhien luntur. Dalam keterbatasan penglihatan karena rabun dan penyakit rematik yang dideritanya, ia tetap memimpin pasukan keluar-masuk hutan.

Melihat kondisi itu, tangan kanannya yang bernama Pang Laot membujuk Cut Nyak Dhien untuk menyerah. Namun, Cut Nyak Dhien menolak mentah-mentah usulan itu. Baginya, mati lebih baik daripada dijajah oleh Belanda.

Namun, dengan sisa pasukan yang tinggal sedikit, logistik makanan yang menipis, dan pemimpin mereka yang semakin melemah, Pang Laot akhirnya dengan berat hati melapor kepada Belanda tentang keberadaan Cut Nyak Dhien.

Pang Laot memberikan dua syarat kepada Belanda: pertama, Cut Nyak Dhien harus diperlakukan secara terhormat sesuai statusnya sebagai pemimpin dan bangsawan; kedua, jangan pisahkan Cut Nyak Dhien dari tanah dan rakyat Aceh.

“Pengkhianatan” Pang Laot bukan tanpa alasan. Ia ingin agar Cut Nyak Dhien yang sedang sakit tidak terus menderita di hutan dan bisa mendapatkan perawatan yang layak.

Belanda menyetujui persyaratan tersebut, meskipun pada akhirnya syarat kedua dilanggar.

Pada tahun 1901, persembunyian Cut Nyak Dhien di Gua Beutong Le Sageu, Nagan Raya, Aceh Barat, dikepung dan diserbu Belanda atas petunjuk arah dari Pang Laot. Letnan van Tuuren ditugaskan untuk memimpin operasi penangkapan Cut Nyak Dhien.

Diceritakan bahwa ketika pasukan Belanda mengepung, pasukan pejuang kabur sambil membawa Cut Nyak Dhien di atas tandu.

Penggerebekan yang tiba-tiba itu membuat pasukan Cut Nyak Dhien kocar-kacir. Banyak yang gugur, dan ada pula yang berhasil melarikan diri, termasuk anaknya, Cut Gambang. Dalam posisi yang terjepit, Cut Nyak Dhien tetap berusaha melawan pasukan Belanda.

Mengetahui bahwa Pang Laot yang mengkhianatinya, Cut Nyak Dhien sangat murka, bahkan hendak menusuk Pang Laot dengan rencong. Namun aksinya dicegah oleh Letnan van Tuuren.

Foto Cut Nyak Dhien sesaat setelah ditangkap pada tahun 1905. (Dok : Wikipedia)

Cut Nyak Dhien ditangkap bersama dengan keponakannya, yaitu Teuku Nana, yang pada saat itu diperkirakan berusia antara 13 hingga 15 tahun. Teuku Nana inilah yang nantinya akan menjadi pengawal Cut Nyak Dhien selama masa pengasingan.

Ia dibawa dan dirawat di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), hingga berangsur-angsur pulih.

Namun pada 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, karena pengaruhnya masih dianggap kuat, walaupun ia sudah berada di bawah pengawasan Belanda.

Perjuangan Cut Nyak Dhien yang begitu hebat digambarkan oleh Snouck Hurgronje, seorang orientalis dan penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda, dalam bukunya De Atjehers (1906):

Perempuan Aceh gagah dan berani merupakan perwujudan lahiriah yang tak kenal menyerah yang setinggi-tingginya. Dan apabila mereka bertempur, maka akan dilakukannya dengan energi serta semangat berani mati yang kebanyakan lebih dari kaum lelaki. Bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani dan fanatik seperti bangsa Aceh. Dan kaum wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa mana pun. Tidak ada sebuah roman pun yang bisa menggambarkan kekuatan dan keberanian kaum perempuan Indonesia. Perlawanan tidak akan mudah dipadamkan selama masih ada perempuan seperti Cut Nyak Dhien yang mampu mengobarkan semangat perang dari balik reruntuhan dan hutan.

Keterlibatannya dalam Perang Aceh menunjukkan bahwa perempuan Aceh memiliki peran vital dalam perlawanan kolonial, bukan hanya di belakang layar, tetapi juga di garis depan pertempuran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU