Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 29 AGUSTUS 2025 • 21:50 WIB

Tangis Haru di USK, Kakak Terima Ijazah Adik yang Wafat Sebelum Yudisium

Tangis Haru di USK, Kakak Terima Ijazah Adik yang Wafat Sebelum YudisiumAir mata Nurul jatuh di panggung USK ketika mengambil ijazah sang adik yang sudah meninggal dunia. (Dok : USK)

ACEH - Nurul Purwanti tak kuasa menahan air mata saat Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Marwan, menyerahkan ijazah adiknya pada prosesi Wisuda USK di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Kamis (28/8/2025).

Nurul menggantikan adiknya, Fachrul Razi, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran USK yang meninggal dunia lima hari menjelang yudisium.

Ia merasakan duka mendalam atas kepergian sang adik. Nurul mengatakan, ijazah kedokteran ini adalah impian terbesar Fachrul selama hidupnya.

“Fachrul adalah anak yang baik. Kami semua tahu betapa besar tekadnya untuk menjadi dokter,” kenang Nurul.

Fachrul Razi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia lahir pada 20 Mei 2001, lulusan SMAN 1 Arongan Lambalek, Meulaboh, sebelum melanjutkan studi di FK USK.

Selama kuliah, Fachrul berhasil meraih beasiswa Bidikmisi sejak awal masuk. Kesempatan itu ia manfaatkan sebaik mungkin demi mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.

Baca juga: Koetaradja Aeromoto 10 FT USK Sabet Juara Performance Race Dunia

Menurut Nurul, ibunda mereka meninggal dunia pada 2017, saat Fachrul masih duduk di bangku SMA. Sementara sang ayah yang sakit stroke tinggal bersama anak sulung di Jakarta. Sejak itu, Nurul mengambil peran ganda—menjadi kakak sekaligus sosok ibu bagi Fachrul.

“Lima hari sebelum meninggal, Fachrul sempat pulang ke kampung,” ungkap Nurul. Kampung itu adalah Desa Lhong, Aceh Besar, tempat keluarga besar mereka tinggal.

Saat itu, Nurul menyambutnya dengan memasak rendang Padang kesukaannya. Mereka tertawa bersama, bercanda dengan anak-anak Nurul, bahkan berpelukan hangat sebelum berpisah.

“Wajahnya bersih sekali. Bajunya wangi, padahal dia jarang memakai parfum,” ucap Nurul. Hari itu tak ada tanda-tanda sakit, hanya Fachrul terlihat lebih diam dan lebih patuh dari biasanya. Ponsel yang biasanya tak lepas dari genggaman pun ia letakkan, memilih bercengkerama.

Fachrul sempat berpesan, “Kak, jaga anak-anak kakak baik-baik ya. Mereka harus kuliah seperti adek.” Nurul menjawab sambil tersenyum, “Adek saja kakak kuliahkan, apalagi anak sendiri.”

Keesokan harinya, sekitar pukul 11.00 WIB, Fachrul mengirim pesan lewat WhatsApp: “Kak, adek menggigil. Adek sudah diinfus di RS USK.” Nurul segera menghubungi teman-temannya yang mendampingi. Beberapa jam kemudian, Fachrul kembali memberi kabar bahwa dirinya sudah mendingan.

Baca juga: Blok Andaman Dibahas Serius, Siap Dongkrak Ekonomi Lhokseumawe 20 Tahun ke Depan

Sahabatnya, Aska, membenarkan bahwa Fachrul sudah lepas infus, bahkan sempat makan makanan yang dibawakan temannya. Namun menjelang Magrib, perawat menemukan Fachrul tidak sadarkan diri. Lima menit kemudian, Aska menghubungi Nurul dengan kabar memilukan:

“Kak, Fachrul sudah tidak ada. Kakak harus banyak sabar dan berdoa, ya.”

Dunia seakan runtuh bagi Nurul. Ia tak kuasa menahan air mata. Semua kenangan bersama Fachrul berkelebat dalam ingatan—mulai dari masa kecil ketika ia memandikan adiknya, hingga perjuangannya mendukung cita-cita Fachrul menjadi dokter.

Sejak kepergian sang ibu, Nurul berjanji menjaga adik-adiknya, termasuk pesan terakhir almarhumah: “Jaga Fachrul. Bantu dia kuliah. Dia pintar dan punya cita-cita jadi dokter.” Pesan itu selalu terngiang, hingga membuat Nurul semakin berlinang air mata saat mengenangnya.

Bersama sang suami, Nurul terus berjuang membiayai pendidikan Fachrul, memberi semangat, dan memastikan ia tidak pernah merasa sendiri.

Kini, cita-cita Fachrul untuk diwisuda akhirnya tercapai, meski raganya tak lagi hadir. Saat namanya dipanggil di panggung Gedung AAC Dayan Dawood, ruangan mendadak hening. Dengan langkah berat dan mata berkaca-kaca, Nurul naik ke atas panggung, menggenggam erat ijazah sang adik.

Bagi Nurul, ijazah itu bukan sekadar dokumen akademik, melainkan simbol cinta, pengorbanan, dan janji seorang kakak kepada adiknya—juga kepada almarhumah ibunya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Usk.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tangis Haru di USK, Kakak Terima Ijazah Adik yang Wafat Sebelum Yudisium

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!