Kamis, 24 JULI 2025 • 20:11 WIB

Ternyata Begini Strategi Aceh Besar Jadikan Desa Sebagai Pusat Kebudayaan!

Author

Asisten 1 Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP memberi Berbagai pada Lokakarya Penguatan Kapasitas Pendampingan Kebudayaan Desa di Desa Wisata Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. (Dok : MC Aceh besar)

ACEH - Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Aceh Besar Bidang Tata Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat, Farhan, AP, menghadiri pembukaan Lokakarya Penguatan Kapasitas Pendampingan Kebudayaan Desa. Kegiatan tersebut diadakan di Desa Wisata Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar pada Rabu (23/07/2025).

Kegiatan bertajuk Lokakarya Penguatan Daya Desa dalam Rangka Program Pemajuan Kebudayaan Desa ini merupakan bagian dari program Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang digelar sejak tanggal 22 hingga 26 Juli 2025. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pendamping kebudayaan. Selain itu program ini untuk memberdayakan desa melalui pendekatan berbasis budaya serta kearifan lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan mengucapkan terima kasih atas terpilihnya desa Nusa sebagai lokasi pelaksanaan lokakarya untuk gelombang ketiga. 

Tak lupa pula Ia berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan yang telah mempercayakan desa Nusa sebagai tuan rumah.

Baca juga: Kembali Berprestasi, Meunasah Balee Siap Harumkan Aceh di Ajang Wisata Nasional

“Kami menerima para peserta dengan senang hati, silakan nikmati keindahan alam, kekayaan budaya, dan pelestarian masyarakat desa ini,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar berjanji akan mendukung pengembangan pariwisata dan peningkatan kapasitas budaya di daerah tersebut.

Ia juga menyebutkan bahwa di Aceh Besar terdapat tiga desa wisata yang menjadi kebanggaan, yakni Nusa, Lubok Bate, dan Meunasah Balee. 
Farhan berpesan kepada masyarakat desa Nusa agar tetap menjaga budaya, adat istiadat, dan bahasa daerah.

“Berdasarkan hasil penelitian UNESCO, bahasa daerah Aceh terancam punah dalam 20 tahun ke depan. Maka, kita harus mempertahankannya sebagai warisan budaya tak ternilai,” tegas Farhan.

Ia juga mengucapankan selamat datang kepada seluruh peserta dan berharap mereka dapat merasa nyaman dan betah selama mengikuti rangkaian kegiatan di Aceh Besar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, M.Tr.A.P., menjelaskan bahwa program ini telah diinisiasi sejak 2021.

Tujuannya adalah menjadikan desa-desa di Indonesia sebagai pusat kekuatan budaya, tanpa kehilangan jati diri dan kearifan lokal, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Desa harus tumbuh dan berkembang, memanfaatkan potensi kebudayaannya untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, jangan sampai kita menghapus identitas dan karakter lokal. Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang dirawat dan dijaga,” jelas Mahendra.

Asisten 1 Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP memberi Berbagai pada Lokakarya Penguatan Kapasitas Pendampingan Kebudayaan Desa di Desa Wisata Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. (Dok : MC Aceh Besar)

Ia juga menekankan ada empat elemen penting untuk memajukan desa berbasis budaya, yakni identitas dan karakter, ketahanan budaya dan adat istiadat, diplomasi kebudayaan, serta kesejahteraan masyarakat. 

Menurut Mahendra, peserta diharapkan dapat mengenali potensi dan tantangan di desa dampingan mereka, serta menciptakan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

“Program ini akan berhasil jika peserta mampu berinovasi, memahami karakter desa, dan menjadi penggerak solusi di lapangan,” tutupnya.

Direktur Bina SDM Lembaga Pranata Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, S.S., M.S.P., dalam laporannya menekankan pentingnya kolaborasi antara peserta, pemerintah desa, dan masyarakat. Ia juga mengapresiasi kemajuan desa Nusa yang berkembang pesat pasca musibah tsunami 2024.

“Banyak hal yang bisa ditiru dari desa Nusa ini, terutama semangat masyarakatnya yang tidak menyerah dalam membangun kembali desa mereka,” ujarnya.

Baca juga: Bangga! Desa Lam Bheu Aceh Besar Masuk Final Lomba Desa Digital 2025

Pada sesi ketiga yang juga menjadi penutup rangkaian lokakarya ini, Irini menyampaikan harapan agar para peserta dapat mengikuti seluruh kegiatan dengan sungguh-sungguh. 

Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk merumuskan program wisata budaya yang mampu memberikan dampak nyata di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam laporannya, Irini juga mengucapkan terima kasih kepada Keuchik, perangkat desa, serta masyarakat Nusa atas kerja sama dan dedikasi mereka dalam menyukseskan acara ini. 

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, S.STP., M.Si.; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, S.Sos.; Camat Lhoknga, Mukhtar Yakob, S.Sos.; unsur Forkopimcam Lhoknga; Keuchik Nusa, Sanusi; tokoh masyarakat; serta peserta lokakarya dari berbagai wilayah di Pulau Sumatera.

Lokakarya ini bukan hanya menjadi ajang penguatan kapasitas, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya serta sarana untuk memahami karakteristik desa sebagai pusat pertumbuhan yang berbasis pada kearifan lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Acehbesarkab.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU