Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 08 JANUARI 2026 • 22:59 WIB

Meugang: Tradisi Berusia Ratusan Tahun yang Menandai Datangnya Ramadhan di Aceh

Meugang: Tradisi Berusia Ratusan Tahun yang Menandai Datangnya Ramadhan di AcehSuasana tradisi Meugang di Aceh menyambut Ramadhan. Harga daging merangkak naik, menjadi perhatian Gubernur Aceh dalam rapat pemulihan bencana. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Beberapa saat lalu, dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI/Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam), Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyoroti tingginya harga daging di Aceh.

Pernyataan itu sempat memunculkan komentar negatif dari publik nasional. Banyak yang menilai bahwa Gubernur, yang akrab disapa Mualem, justru memikirkan harga daging di tengah rapat yang fokus pada pemulihan banjir Aceh.

Namun, perhatian Mualem terhadap lonjakan harga daging ternyata berkaitan dengan tradisi masyarakat Aceh menjelang bulan suci Ramadan.

Di Aceh, terdapat tradisi yang telah berlangsung turun-temurun untuk menyambut bulan puasa, yakni Makmeugang atau Meugang. Meugang adalah tradisi memasak daging ternak—mulai dari sapi, kerbau hingga kambing—satu hari sebelum puasa untuk dinikmati bersama keluarga. Suasana Meugang biasanya sangat meriah, dengan banyak pedagang daging musiman memenuhi pinggir jalan. Tradisi ini tidak hanya dilakukan jelang Ramadan, tetapi juga saat Idulfitri dan Iduladha.

Baca juga: Ketika Putra Mahkota Dipenggal oleh Sultan Iskandar Muda : Jejak Konspirasi, Hukum, dan Penyesalan di Istana Aceh

Pada hari Meugang, masyarakat membeli daging dalam jumlah besar, lalu mengolahnya menjadi aneka masakan kaya rempah. Menu khas Aceh seperti Sie Reuboh, Masak Mirah, Masak Puteh, hingga rendang menjadi hidangan utama di meja keluarga.

Bagi masyarakat Aceh, Meugang merupakan simbol rasa syukur atas rezeki yang dicari selama 11 bulan. Tradisi ini juga menjadi bentuk suka cita dalam menyambut hari-hari besar umat Islam.

Jejak tradisi Meugang telah ada sejak masa Sultan Iskandar Muda pada 1607–1636 Masehi. Pada masa itu, Sultan menyembelih hewan dalam jumlah banyak dan membagikan dagingnya secara gratis kepada rakyat sebagai ucapan syukur atas kemakmuran yang diberikan Allah, sekaligus bentuk terima kasih kepada masyarakatnya.

Tradisi ini sempat berhenti dilakukan oleh sultan-sultan setelahnya ketika Kerajaan Aceh ditaklukkan Belanda pada 1873. Meski demikian, Meugang tetap hidup dan dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Tradisi Aceh

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Meugang: Tradisi Berusia Ratusan Tahun yang Menandai Datangnya Ramadhan di Aceh

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!