ACEH - Kematian tragis putra mahkota Kesultanan Aceh, Meurah Pupok menjadi simbol bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Kenapa Sultan tega menghukum mati anak yang akan mewarisi kesultanannya?
Hal ini bermula dari laporan seorang perwira kepada Sultan yang mengatakan bahwa istrinya telah berzina dengan Meurah Pupok. Ia telah membunuh istrinya atas kesalahan itu. Jadi ia juga meminta kepada Sultan untuk menghukum mati Meurah Pupok demi keadilan.
Sultan sebenarnya sedikit ragu karena anaknya dikenal sebagai anak yang taat. Namun keadilan tetap harus ditegakkan.
Sultan kemudian bermasyawarah dengan Qadhil Malikul Adil selaku Ketua Mahkamah Kesultanan Aceh. Putroe Phang, salah satu istri Sultan sekaligus ibu tiri Meurah Pupok membujuk Sultan agar menghukum mati anaknya.
Baca juga: Sejarah Kerkhof Peucut: Jejak Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Penjajah
Pada masa itu, hukuman mati diatur dalam konstitusi Kesultanan Aceh Darussalam, yaitu Qanun Meukuta Alam yang bersumber dari Alquran dan Alhadis. Saat itu, hukum Aceh memang dikenal keras terhadap para pelaku kejahatan.
Banyak pihak yang membujuk Sultan agar memaafkan sang Putera Mahkota. Salah satunya adalah Panglima Wazir Mizan. Bahkan mereka menawarkan agar Meurah Pupok diusir saja dari Aceh. Namun Putroe Phang tetap mendesak agar Sultan menyetujui eksekusi terhadap Meurah Pupok.
Ketika ditanya mengapa Sultan begitu berani menghukum satu-satunya putra mahkota. Disini lah muncul kata-kata ikonik dari Sultan. “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita.” Begitu ucap Sultan. Arti dari perkataan tersebut adalah mati anak ada makamnya, tapi jika hukum yang mati hendak kemana akan dicari.
Hal ini menunjukkan bahwa Sultan tidak berkompromi dan pandang bulu dalam menjatuhkan hukuman.
Baca juga: Cut Mutia : Kisah Cinta dan Perjuangan Srikandi dari Tanah Rencong
Setelah sholat Jumat, Meurah Pupok dibawa kedepan algojo untuk dipenggal dihadapkan masyarakat tanpa melalui pengadilan. Ketika kepalanya hendak ditutup kain, ia meminta agar dirinya dibiarkan tanpa kain penutup kepala.
Ia ingin diakhir hidupnya tetap bisa melihat ayah yang dicintainya.
Namun apakah benar ceritanya begitu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Maa.acehprov.go.id