Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 11 APRIL 2026 • 23:35 WIB

Kenalan Sama Suku-Suku di Aceh, Dari Pesisir hingga Dataran Tinggi

Kenalan Sama Suku-Suku di Aceh, Dari Pesisir hingga Dataran TinggiKeberagaman suku di Aceh menjadi bagian penting dalam membentuk identitas budaya yang tetap hidup dan terjaga hingga sekarang. (Dok : Budaya Aceh)

ACEH - Ketika menyebut Aceh, banyak orang langsung membayangkan daerah dengan identitas religius yang kuat. Namun, di balik itu, wilayah di ujung barat Indonesia ini menyimpan kekayaan lain yang tak kalah penting, yakni keberagaman suku yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakatnya.

Aceh tidak hanya dihuni oleh satu kelompok etnis. Beragam suku hidup dan berkembang di wilayah ini, masing-masing membawa bahasa, tradisi, serta cara hidup yang berbeda, tetapi tetap berpadu dalam harmoni.

Peta Suku yang Mendiami Aceh

Berdasarkan data sensus, Provinsi Aceh dihuni oleh sedikitnya 11 kelompok suku. Suku Aceh menjadi kelompok mayoritas dengan jumlah sekitar 76 persen dari total populasi.

Di wilayah timur, suku Tamiang mendominasi sebagian Kabupaten Aceh Tamiang dengan persentase sekitar 35 persen. Sementara itu, di kawasan Aceh Tenggara, terdapat suku Haloban yang menjadi bagian dari keragaman etnis di wilayah tersebut.

Wilayah barat daya dan selatan Aceh dihuni oleh suku Singkil yang tersebar di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam dengan proporsi sekitar 40 persen. Di Kabupaten Aceh Selatan, komunitas Aneuk Jamee dan suku Kluet juga cukup dominan, masing-masing membentuk sekitar 35 persen populasi lokal.

Sementara itu, wilayah dataran tinggi menjadi rumah bagi suku Gayo yang tersebar di beberapa kabupaten, seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah (sekitar 20 persen), serta Gayo Lues yang mencapai sekitar 40 persen.

Di wilayah kepulauan, khususnya Kabupaten Simeulue, terdapat tiga kelompok etnis utama, yakni suku Simeulue, Devayan, dan Sigulai yang memperkaya identitas budaya masyarakat setempat.

Bahasa sebagai Penanda Identitas

Keberagaman suku di Aceh juga tercermin dari bahasa yang digunakan. Bahasa Aceh memiliki berbagai dialek yang berbeda antarwilayah. Sementara itu, masyarakat Gayo menggunakan bahasa yang memiliki struktur dan kosakata yang khas.

Di sisi lain, masyarakat Tamiang cenderung menggunakan bahasa yang dekat dengan Melayu, sedangkan Aneuk Jamee memiliki bahasa yang dipengaruhi oleh Minangkabau.

Perbedaan bahasa ini memperlihatkan dinamika budaya yang berkembang di Aceh sekaligus memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

Baca juga: Fakta Unik Pakaian Adat Gayo yang Jarang Dibahas, dari Kerawang hingga Filosofinya

Tradisi dan Sistem Sosial yang Terpelihara

Setiap suku di Aceh memiliki tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai upacara adat, kesenian, hingga sistem kekerabatan masih dijaga sebagai bagian dari identitas budaya.

Masyarakat Gayo, misalnya, dikenal dengan sistem adat yang kuat dalam kehidupan sosialnya. Sementara itu, masyarakat Aceh pesisir memiliki tradisi keagamaan yang berpadu dengan budaya lokal.

Nilai-nilai seperti gotong royong, penghormatan terhadap tokoh adat, serta kuatnya ikatan keluarga masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kenalan Sama Suku-Suku di Aceh, Dari Pesisir hingga Dataran Tinggi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!