Kamis, 03 JULI 2025 • 20:35 WIB

Cut Mutia : Kisah Cinta dan Perjuangan Srikandi dari Tanah Rencong

Author

Potret Cut Nyak Meutia atau lebih dikenal sebagai Cut Mutia. (Dok : Wikipedia)

ACEH - Cut Nyak Meutia atau Cut Mutia adalah salah satu pejuang Aceh yang dengan berani mengusir penjajah Belanda. Ia lahir pada 15 Februari 1870 dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah.

Orang tua Cut Meutia merupakan keturunan asli Aceh seorang Uleebalang di desa Pirak yang berada dalam daerah Keuleebalangan Keureutoe. Uleebalang adalah kepala pemerintahan dalam kesultanan Aceh yang memimpin sebuah daerah setingkat kabupaten dalam struktur pemerintahan Indonesia sekarang. Jadi bisa dikatakan bahwa beliau adalah putri dari orang yang berpengaruh. 

Cut Mutia adalah anak perempuan satu-satunya karena keempat saudaranya adalah laki-laki. Kisah hidupnya tidak selalu mulus, malahan sering terjadi perpisahan dan tragedi. Sejak kecil ia sudah diajarkan ilmu agama dan berpedang.

Pernikahan pertamanya dengan Teuku Syamsarif atau lebih dikenal sebagai Teuku Chik Bintara melalui perjodohan. Cut Mutia sejujurnya tidak menyukai suaminya karena sang suami tunduk ke Belanda dan hidup dengan kemewahan. Pernikahannya berakhir karena perceraian akibat perbedaan ideologi keduanya.

Baca juga:  Saat Dunia Menindas Perempuan, Aceh Melahirkan Laksamana Wanita Paling Ditakuti Penjajah

Pernikahannya yang kedua dengan pejuang Aceh yang bernama Teuku Chik Muhammad atau lebih dikenal sebagai Teuku Chik Tunong. Berbeda dengan suami pertama, Teuku Chik Tunong adalah seorang pejuang.

Seperti wanita Aceh lainnya, Cut Mutia juga turut melakukan perlawanan untuk mengusir penjajah. Ia dan suami keduanya memimpin pasukan dalam pertempuran melawan penjajah Belanda pada tahun 1899.

Cut Mutia dikenal sebagai ahli strategi bertempur dan mahir dalam berpedang. Taktik briliannya seringkali membuat Belanda kewalahan menghadapi pasukan Cut Mutia. Cut Mutia sempat dibujuk untuk menyerah, namun dia dengan tegas menolak.

Namun perpisahan kedua suami istri tersebut akhirnya terjadi tatkala sang suami ditangkap oleh pasukan Belanda pada tahun 1905. Ia dihukum karena telah melakukan serangan dan membunuh seluruh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Sersan Vellaers ketika mereka selesai patroli. Pihak Belanda murka dan karena itu Teuku Chik Tunong dihukum mati dipinggir pantai Lhokseumawe.

Sebelum kematian menjemputnya, Teuku Chik Tunong memberi wasiat kepada sahabatnya, yakni Pang Nanggroe untuk menikahi Cut Mutia dan merawat anaknya, Teuku Raja Sabi.

Pang Nanggroe menyanggupi wasiat Teuku Chik Tunong untuk menikahi Cut Mutia. Tepat 100 hari setelah meninggalnya Teuku Chik Tunong, mereka bersatu melalui pernikahan.

Mereka berdua melanjutkan perjuangan untuk mengusir penjajah dengan bergabung dengan pasukan dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Kali ini perjuangan kedua semakin sulit karena persenjataan Belanda semakin canggih sedangkan mereka hanya mengandalkan pedang dan rencong sebagai senjatanya.

Mereka bergerilya dari satu hutan rimba ke hutan lainnya untuk mengelabui pihak Belanda. Dalam pertempuran melawan Korps Marechausee di Paya Cicem, Cut Mutia dan para wanita terpaksa mundur dan melarikan diri ke dalam hutan belantara. Sementara Pang Nanggroe dan pasukannya terus melakukan perlawanan.

Ilustrasi pertempuran Cut Mutia melawan pasukan penjajah Belanda. (Dok : AI)
Cut Mutia lagi-lagi menjadi janda karena Pang Nanggroe gugur di medan perang pada tahun 1910. Pasukan Belanda kemudian mengincar Cut Mutia pada Oktober 1910. Tanpa sang suami, Cut Mutia tidak pantang menyerah, ia tetap melawan Belanda bersama sisa pasukannya yang berjumlah 45 orang dan 13 senjata. Dia dan pasukannya dikepung oleh pasukan Belanda pada pertempuran dengan Marechausée di Alue Kurieng. Walaupun sudah terkepung, dengan pedang dan rencong dia maju paling depan untuk memimpin pasukannya. Banyak tentara Belanda yang tewas. Namun pertempurannya terhenti ketika peluru menembus dada dan kepalanya sehingga perjuangannya berakhir. Ketika gugur pun tangannya masih memegang pedang.

Cut Mutia bukan hanya sosok perempuan pejuang yang melawan penjajah, tetapi juga simbol keteguhan hati, kecerdasan strategi, dan kekuatan perempuan Aceh yang tak gentar menghadapi maut. Meski telah gugur, semangat juangnya tetap hidup dan dikenang oleh generasi setelahnya. Dari hutan-hutan Aceh hingga lembaran uang rupiah, namanya terus menginspirasi bangsa. Perjuangannya bukan hanya untuk tanah kelahirannya, tapi untuk kemerdekaan yang kita nikmati hari ini. Sejarah tak akan pernah melupakan Cut Nyak Meutia, sang srikandi pedang dari Tanah Rencong.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU