Selasa, 08 JULI 2025 • 13:15 WIB

Ketika Putra Mahkota Dipenggal oleh Sultan Iskandar Muda : Jejak Konspirasi, Hukum, dan Penyesalan di Istana Aceh

Author

Ilustrasi Putra Mahkota Meurah Pupok akan dipenggal dihadapkan ayahnya, yaitu Sultan Iskandar Muda. (Dok : AI)

ACEH - Kematian tragis putra mahkota Kesultanan Aceh, Meurah Pupok menjadi simbol bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

Kenapa Sultan tega menghukum mati anak yang akan mewarisi kesultanannya?

Hal ini bermula dari laporan seorang perwira kepada Sultan yang mengatakan bahwa istrinya telah berzina dengan Meurah Pupok. Ia telah membunuh istrinya atas kesalahan itu. Jadi ia juga meminta kepada Sultan untuk menghukum mati Meurah Pupok demi keadilan.

Sultan sebenarnya sedikit ragu karena anaknya dikenal sebagai anak yang taat. Namun keadilan tetap harus ditegakkan.

Sultan kemudian bermasyawarah dengan Qadhil Malikul Adil selaku Ketua Mahkamah Kesultanan Aceh. Putroe Phang, salah satu istri Sultan sekaligus ibu tiri Meurah Pupok membujuk Sultan agar menghukum mati anaknya.

Baca juga: Sejarah Kerkhof Peucut: Jejak Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Penjajah

Pada masa itu, hukuman mati diatur dalam konstitusi Kesultanan Aceh Darussalam, yaitu Qanun Meukuta Alam yang bersumber dari Alquran dan Alhadis. Saat itu, hukum Aceh memang dikenal keras terhadap para pelaku kejahatan.

Banyak pihak yang membujuk Sultan agar memaafkan sang Putera Mahkota. Salah satunya adalah Panglima Wazir Mizan. Bahkan mereka menawarkan agar Meurah Pupok diusir saja dari Aceh. Namun Putroe Phang tetap mendesak agar Sultan menyetujui eksekusi terhadap Meurah Pupok.

Ketika ditanya mengapa Sultan begitu berani menghukum satu-satunya putra mahkota. Disini lah muncul kata-kata ikonik dari Sultan. “Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita.” Begitu ucap Sultan. Arti dari perkataan tersebut adalah mati anak ada makamnya, tapi jika hukum yang mati hendak kemana akan dicari.

Hal ini menunjukkan bahwa Sultan tidak berkompromi dan pandang bulu dalam menjatuhkan hukuman.

Baca juga: Cut Mutia : Kisah Cinta dan Perjuangan Srikandi dari Tanah Rencong

Setelah sholat Jumat, Meurah Pupok dibawa kedepan algojo untuk dipenggal dihadapkan masyarakat tanpa melalui pengadilan. Ketika kepalanya hendak ditutup kain, ia meminta agar dirinya dibiarkan tanpa kain penutup kepala. 

Ia ingin diakhir hidupnya tetap bisa melihat ayah yang dicintainya.

Namun apakah benar ceritanya begitu?

Dilansir dari situs resmi Sekretariat Majelis Adat Aceh, sehari setelah kematian Meurah Pupok, Sultan mengangkat Iskandar Tsani yang notabene adalah menantunya menjadi putra mahkota. Tak berapa lama kemudian, Sultan wafat dalam penyesalan karena dilanda rasa bersalah terhadap Meurah Pupok. Namun ada desas-desus yang mengatakan bahwa Sultan mangkat karena diracun.

Potret Sultan Iskandar Muda. (Dok : Wikipedia)

Perwira yang melaporkan Meurah Pupok juga meninggal dunia tak lama setelah melapor kepada Sultan.

Ratu Safiatuddin yang pada saat itu masih berstatus Putri curiga atas banyak kejadian janggal tersebut. Ia tak yakin bahwa abang kesayangannya melakukan perzinaan. Ia menyelidiki secara diam-diam dengan bantuan pengawal kepercayaannya. 

Yang sebenarnya terjadi adalah Meurah Pupok adalah korban dari fitnah keji atas dasar konspirasi politik untuk menggagalkan ia naik tahta.

H. Raman Kaoy yang semasa hidupnya pernah menjadi wakil Ketua I Majelis Adat Aceh, berkisah dari bukti sejarah yang pernah didengar dan disampaikan oleh orang Pahang Malaysia yang berkunjung ke Aceh (Majelis Adat Aceh), bahwa ada konspirasi jahat yang melibatkan banyak pihak, termasuk Putroe Phang.

Namun kisah tragis tentang konspirasi keterlibatan Putroe Phang dan kesalahan yang diperbuat Meurah Pupok tidak tercatat di buku dan manuskrip manapun. Ceritanya hanya beredar dari cerita turun-temurun dan melalui hikayat Aceh.

Bisa saja itu cerita karangan, namun bisa saja cerita itu benar. Karena banyak buku catatan penting peninggalan Kesultanan Aceh yang tertulis dalam karya basa Jawi, hilang bagai ditelan bumi. Sebagian masih tersimpan di Museum Broonbeek Belanda. Ada lebih dari 200 naskah penting milik Kerajaan Aceh tersimpan disana. Yang hilang malah lebih banyak, sekitar 500 manuskrip catatan Kesultanan Aceh hilang sampai sekarang dan belum juga ditemukan.

Disamping benar atau tidaknya cerita itu, yang pasti makam Meurah Pupok bisa kita temukan di pemakaman militer Belanda Kerkhof Peucut yang terletak di pusat Kota Banda Aceh. Makam Meurah Pupok sudah ada disana 300 tahun sebelum Belanda membuat makam Kerkhof Peucut untuk para serdadunya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Maa.acehprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU