ACEH - Pemerintah Kota Langsa menyelenggarakan karnaval budaya untuk memperingati HUT ke-80 RI. Acara ini menjadi ajang kebanggaan untuk menampilkan keragaman adat dan budaya dari berbagai daerah di Nusantara. Namun, sayangnya karnaval ini dinodai oleh aksi rasisme terhadap masyarakat asli Papua.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak sejumlah anak sekolah di Langsa yang ditunjuk untuk memakai busana tradisional Papua justru melecehkan adat Papua dengan topeng dan kostum yang tidak pantas.
Alih-alih menggunakan busana adat tradisional seperti koteka, noken, atau hiasan kepala dari bulu burung cenderawasih, mereka malah memakai topeng monyet dan merias wajah menyerupai hewan.
Baca juga: Remaja 17 Tahun Curi Mesin Giling Kopi di Aceh Tengah, Satu Rekan Masih Buron
Anak-anak itu menari dengan topeng monyet seolah-olah adat Papua identik dengan sifat primitif, liar, dan jauh dari peradaban.
Penonton yang hadir pun tampak tidak terganggu dengan aksi tersebut, seakan-akan hal itu normal di tengah masyarakat.
Tindakan tersebut sontak mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama masyarakat Papua, karena mereka tidak terima budayanya dilecehkan.
Banyak pihak menilai bahwa peristiwa ini bukan sekadar kekeliruan kostum, melainkan bentuk rasisme di kalangan pelajar dan masyarakat Aceh. Mereka menganggap bahwa perbuatan tersebut merupakan penghinaan yang merendahkan harkat dan martabat orang Papua.
Salah satu netizen berkomentar dan mengajak masyarakat Indonesia untuk belajar menghargai budaya dari suku lain.
"Kalau di Papua pas karnaval kita gunakan baju adat dari provinsi atau daerah lain, kita hormati loh. Bahkan kita hargai untuk belajar cara menggunakan pakaian adat tersebut. Di Papua juga tidak pernah ada karnaval yang menggunakan topeng monyet atau hewan jenis apa pun, kecuali itu memang karnaval khusus hewan. Ini parah sih, bro and sis. Yuk belajar lebih banyak tentang baju adat Papua sebelum digunakan buat karnaval, biar punya etika dan sopan santun," tulis akun @talia_rinii.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap perayaan kebudayaan harus diselenggarakan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap keberagaman.
Indonesia sejatinya kuat karena persatuan di tengah perbedaan, bukan sebaliknya. Masyarakat Papua berharap, ke depan tidak ada lagi tindakan rasisme, sebab setiap budaya di Indonesia layak dihormati dan dijunjung tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @cinta_wamena