ACEH - Generasi muslim diminta meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi berbagai ujian keimanan serta perjuangan dakwah, khususnya dalam menegakkan perintah salat dan kurban. Keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan Nabi Ibrahim menjadi teladan penting bagi umat Islam dalam menjaga ketaatan kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry, Dr. H. Syarifuddin, MA, PhD, dalam khutbah Jumat di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Jumat (29/5/2026) bertepatan dengan 12 Zulhijah 1447 H.
Dalam khutbahnya, cendekiawan muslim yang akrab disapa Cekdin Solong itu menekankan keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi berbagai ujian berat sepanjang perjalanan dakwahnya.
Menurutnya, dakwah Nabi Ibrahim AS tidak diterima oleh kaumnya, bahkan ditolak oleh penguasa pada masa itu hingga beliau dimasukkan ke dalam api yang menyala. Namun, Allah SWT menyelamatkannya dari kobaran api tersebut.
“Nabi Ibrahim tetap teguh dalam menjalankan dakwah dan perintah Allah walau menghadapi ancaman besar. Keteguhan itu harus menjadi inspirasi bagi generasi muslim hari ini,” ujarnya.
Selain itu, Nabi Ibrahim AS juga diuji dengan belum dikaruniai keturunan hingga usia lanjut, sementara istrinya, Siti Hajar, juga telah berusia tua. Namun semangatnya untuk terus memohon kepada Allah agar diberikan keturunan saleh sebagai penerus dakwah tidak pernah padam.
Baca juga: UIN Ar-Raniry Salurkan Ribuan Paket Kurban, Cerita Sakinah Bikin Tersentuh
Allah kemudian mengabulkan doanya dengan menganugerahkan seorang putra, Nabi Ismail AS. Namun ujian kembali datang ketika Ibrahim diperintahkan membawa dan meninggalkan Hajar bersama bayi Ismail di lembah tandus tanpa air, tanpa pertanian, dan tanpa kehidupan, yaitu di Makkah.
Perintah tersebut dijalankan dengan penuh kepatuhan. Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya dalam perlindungan Allah SWT, seraya memohon agar mereka tetap menegakkan salat dan menjalankan seluruh perintah Allah.
“Ibrahim tidak hanya tabah menjalankan perintah Allah, tetapi juga meninggalkan keluarganya dengan bekal kehidupan dan keimanan,” jelasnya.
Dalam khutbahnya, Syarifuddin juga menjelaskan bahwa ujian terbesar terjadi ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengurbankan Ismail AS yang saat itu mulai beranjak remaja dan sangat dicintainya.
Namun Ibrahim, Hajar, dan Ismail menerima perintah tersebut dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang taat.
“Begitulah beratnya perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim. Ketika Allah meminta sesuatu yang sangat dicintainya, beliau tetap sanggup menjalankannya dengan ikhlas sehingga Allah menetapkannya sebagai khalilullah atau kekasih Allah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Nabi Ibrahim, Hajar, dan Ismail menjadi contoh nyata keikhlasan seorang hamba dalam beribadah kepada Allah SWT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: UIN Ar-Raniry