Jumat, 27 MARET 2026 • 23:26 WIB

Di Tengah Ancaman Gagal Panen, Petani Aceh Besar Optimalkan Sawah Tadah Hujan

Author

Semangat petani di Gampong Maheng saat mengelola sawah tadah hujan. Di tengah keterbatasan air, mereka tetap optimistis mendukung swasembada pangan nasional. (Dok : MC Aceh Besar)
ACEH -
Upaya pemerintah dalam mendorong swasembada pangan nasional terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk para petani di wilayah pedesaan. Di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, petani mulai mengoptimalkan pengelolaan sawah tadah hujan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi padi.

Optimalisasi sawah tadah hujan dinilai sebagai solusi efektif dalam menghadapi keterbatasan irigasi teknis, khususnya di daerah yang bergantung pada curah hujan. Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan seluruh potensi lahan pertanian guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Di Kabupaten Aceh Besar, sektor pertanian memegang peranan penting sebagai penopang kebutuhan pangan daerah. Dengan luas lahan sawah mencapai puluhan ribu hektare dan produktivitas rata-rata 5–6 ton per hektare, wilayah ini dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung ketersediaan beras di Aceh.

Salah satu petani di Gampong Maheng, Nasri (45), mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi petani adalah faktor cuaca. Dengan luas lahan pertanian sekitar 200 hektare yang bergantung pada air hujan, distribusi air yang tidak merata kerap menjadi kendala serius dan berpotensi menyebabkan gagal panen jika tidak dikelola dengan baik.

“Kami berharap air bisa dikelola dengan baik, sawah tadah hujan ini sangat potensial untuk meningkatkan produksi padi. Di sini hampir 98% masyarakat adalah petani. Namun tantangan kondisi lahan pertanian tadah hujan seperti ini, petani sering mengalami gagal panen jika air tidak dikelola dengan baik,” kata Nasri, saat ditemui di lokasi persawahan, Kamis (26/3/2026).

Selain faktor teknis, semangat gotong royong antarpetani juga menjadi kunci keberhasilan. Para petani saling berkoordinasi dalam menentukan jadwal tanam serta pengelolaan air agar hasil panen dapat lebih optimal.

Baca juga: MBG di Aceh Tamiang Jadi Motor Ekonomi, Petani Kini Punya Pasar Tetap

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program swasembada pangan melalui peningkatan luas tambah tanam (LTT) dan optimalisasi lahan pertanian. Upaya ini dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para petani di lapangan.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penyediaan teknologi, pelatihan, serta kemudahan akses terhadap sarana produksi pertanian. Dengan pendekatan tersebut, sektor pertanian diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan.

Para petani di Gampong Maheng pun optimistis bahwa, dengan pengelolaan yang tepat, sawah tadah hujan dapat menjadi salah satu andalan dalam mendukung ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kalau semua petani serius mengelola lahannya, kami yakin swasembada pangan bisa tercapai. Kami di desa siap mendukung program pemerintah,” tutup Nasri.

Berbagai langkah yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa optimalisasi sawah tadah hujan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Dukungan dari petani, seperti yang terlihat di Gampong Maheng, menjadi bukti bahwa swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: MC Aceh Besar

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU