Cut Nyak Dhien, pemimpin gerilya pejuang Aceh. (Dok : Wikipedia)
ACEH - Jika berbicara tentang Perang Aceh, nama Cut Nyak Dhien tidak bisa diabaikan. Sosoknya begitu fenomenal hingga membuat Belanda kewalahan menghadapi strategi dan semangat juangnya.
Kiprahnya di medan perang adalah salah satu kisah heroik dalam Perang Aceh. Ia bukan hanya istri dan anak seorang pejuang, tetapi juga pemimpin perjuangan.
Semangat juangnya semakin membara ketika Belanda memulai Perang Aceh (1873–1904), salah satu perang paling panjang dan berdarah dalam sejarah kolonial Belanda di Nusantara.
Kematian suami pertamanya, Teuku Chik Ibrahim Lamnga, pada tahun 1878, membuatnya terobsesi untuk memerangi Belanda. Dilansir dari Sagoe TV, sejarawan Aceh Dr. M. Adli Abdullah mengatakan bahwa ketika Teuku Ibrahim meninggal, Cut Nyak Dhien tidak menguburkan suaminya selama hampir satu minggu.
“Jangan kuburkan Abangda Ibrahim sebelum ada pengganti Panglima Perang. Siapa yang bisa menggantikan Abangda Ibrahim, saya siap menjadi istrinya,” begitu kata Cut Nyak Dhien.
Baca juga: Teuku Umar: Mastermind Tergila dalam Sejarah Perang Aceh!
Lalu muncullah sepupunya, yaitu Teuku Umar, yang bersedia menggantikan posisi Teuku Ibrahim dan membalaskan dendam atas kematiannya. Cut Nyak Dhien meminta agar diizinkan ikut berperang, dan permintaan itu disetujui oleh Teuku Umar. Barulah Teuku Ibrahim dimakamkan, dan pada tahun 1880 bersatulah Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien dalam pernikahan.
Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga menjadi simbol bahwa perjuangan melawan Belanda akan dilakukan dengan sepenuh jiwa dan raga.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin perang gerilya, mengorganisasi pasukan, menyuplai logistik, dan menyusun taktik perang.
Namun, pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran tak seimbang di pinggiran Kota Meulaboh.
Foto asli Teuku Umar pada tahun 1980. (Dok : Wikipedia)
Ketika Teuku Umar gugur melawan Belanda, putri mereka, Cut Gambang, tak kuasa menahan tangis. Melihat hal itu, Cut Nyak Dhien memeluk putrinya sambil berkata penuh ketegasan:
“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata untuk seorang syahid. Orang yang syahid tidak mati. Mereka senantiasa hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya.”
Nasihat yang terkenal ini mencerminkan prinsip hidup dan keteguhan hati Cut Nyak Dhien sebagai pejuang sekaligus ibu. Menurutnya, kematian dalam perjuangan bukanlah duka, melainkan kehormatan. Kematian suami bukan akhir dari perlawanan, melainkan panggilan untuk terus berdiri dan melanjutkan jihad melawan penjajahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber