Ilustrasi permainan tradisional Aceh. (Dok : ChatGPT/Ira Yulia Alfiani)
ACEH - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, permainan tradisional perlahan mulai tersingkir dari keseharian anak-anak. Kini, banyak yang lebih akrab dengan layar gawai daripada bermain di halaman atau lapangan bersama teman-temannya. Padahal, jauh sebelum dunia digital hadir, anak-anak di Aceh telah memiliki beragam permainan yang tak kalah seru, bahkan sarat nilai kehidupan.
Bagi masyarakat Aceh, permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Ia merupakan bagian dari warisan budaya yang tumbuh bersama kehidupan sosial masyarakat. Lewat permainan-permainan ini, anak-anak belajar berinteraksi, bekerja sama, sekaligus memahami arti sportivitas dan kejujuran.
Sejak dahulu, permainan tradisional telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Permainan ini lahir dari lingkungan yang sederhana, memanfaatkan ruang terbuka dan alat-alat yang mudah ditemukan di sekitar. Dari halaman rumah, lapangan desa, hingga area persawahan selepas panen, semuanya bisa menjadi arena bermain yang penuh keceriaan.
Aceh memiliki ragam permainan tradisional yang unik dan khas. Salah satunya adalah Geudeu-Geudeu, seni gulat tradisional yang mengandalkan kekuatan fisik, kelincahan, dan ketangkasan. Permainan ini tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan, tetapi juga melatih keberanian dan rasa percaya diri.
Ada pula Geulayang Tunang, tradisi adu layang-layang berukuran besar yang biasanya digelar saat angin bertiup kencang. Permainan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menunjukkan kreativitas masyarakat dalam merancang layang-layang dengan bentuk dan motif yang menarik.
Bagi pecinta strategi, masyarakat Aceh mengenal Catoe Rimeung, permainan papan yang sering disebut sebagai catur harimau. Permainan ini mengasah kemampuan berpikir, menyusun strategi, dan mengambil keputusan secara cermat.
Baca juga: Dari Hulu ke Hilir, Ini Fakta Sungai di Aceh yang Jarang Diketahui
Sementara itu, permainan beregu seperti Meuen Galah juga sangat populer. Permainan yang mirip gobak sodor ini menuntut kekompakan, kecepatan, dan kerja sama antarpemain. Tim penjaga berusaha menghalangi lawan melewati garis, sementara tim lawan harus mencari celah untuk lolos.
Permainan lainnya yang tak kalah dikenal adalah Pet-Pet Pong, versi petak umpet khas Aceh yang mengandalkan kecerdikan dan kejelian. Ada juga Tekong, yang memiliki konsep serupa namun dengan aturan permainan yang sedikit berbeda.
Tak hanya itu, masyarakat Aceh juga mengenal Patok Lele atau Meuen Kandang, permainan yang menggunakan dua batang kayu dan menguji ketangkasan. Kemudian ada Meuen Geureupung, atau permainan gasing kayu, yang dahulu sering dimainkan di halaman rumah atau tanah lapang.
Permainan tradisional lain seperti Tarek Situek atau tarik tambang, serta Grop-Grop Lam Krueng, permainan melompat melewati garis, juga menjadi bagian dari keceriaan masa kecil anak-anak Aceh. Bahkan, permainan seperti enggrang batok kelapa hingga kini masih sering diperkenalkan di sekolah-sekolah sebagai sarana melatih keseimbangan dan kreativitas.
Keunikan permainan tradisional Aceh terletak pada kesederhanaannya. Alat yang digunakan umumnya berasal dari bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti bambu, kayu, batu, karet, hingga batok kelapa. Dari kesederhanaan inilah lahir kreativitas, inovasi, dan kemampuan anak untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya.
Lebih dari sekadar permainan, aktivitas ini juga menjadi sarana pembentukan karakter. Anak-anak belajar tentang kejujuran, solidaritas, kerja sama, dan keuletan. Mereka memahami bahwa kemenangan bukanlah segalanya, melainkan proses, usaha, dan kebersamaan yang jauh lebih berharga.
Namun, di era digital seperti sekarang, eksistensi permainan tradisional menghadapi tantangan besar. Kehadiran gawai dan beragam hiburan modern membuat anak-anak semakin jarang mengenal permainan warisan leluhur ini. Ruang bermain yang semakin terbatas juga menjadi salah satu penyebabnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber