Jumat, 17 JULI 2026 • 14:00 WIB

Tak Sekadar Bersih, Program WCP Banda Aceh Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi

Author

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan arah kebijakan pengembangan Waste Collection Point (WCP) yang akan diterapkan di 10 gampong. (Dok : Diskominfo Banda Aceh)
ACEH - 
Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pengembangan Waste Collection Point (WCP). Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan pengembangan WCP akan dilaksanakan di 10 gampong dengan melibatkan kelompok perempuan sebagai motor penggerak. Menurutnya, kaum perempuan memiliki peran penting dan komitmen yang kuat dalam mengelola kegiatan berbasis masyarakat.

“Program ini sangat menguntungkan bagi gampong. Jika ada tanah gampong yang dikelola oleh kelompok tani dan kelompok ibu-ibu, maka sampah yang dipilah dan dikelola bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat,” ujar Illiza di Aula Gedung Mawardy Nurdin, Rabu (15/7/2026).

Ia menjelaskan, melalui program WCP masyarakat didorong untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dapat dijual kepada pengepul, sedangkan residu atau sampah yang tidak dapat dimanfaatkan akan diangkut ke tempat pemrosesan akhir.

Menurut Illiza, meski belum semua jenis sampah dapat diolah melalui konsep reduce, reuse, recycle (3R), masih banyak material yang memiliki nilai jual sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan bagi warga.

“Sampah itu ditimbang dan menghasilkan. Kalaupun belum bisa diolah menjadi produk, masih banyak yang membeli sampah kita. Jadi sebenarnya ini sangat bernilai secara ekonomi,” katanya.

Baca juga: IPARI Banda Aceh Ajak Warga Ubah Sampah Jadi Cuan Lewat Eco Enzim

Ia menambahkan, penerapan konsep ekonomi sirkular juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengolah sampah menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai tambah, seperti tas, kerajinan tangan, hingga produk lainnya yang berpotensi dipasarkan secara lebih luas.

“Plastik, kaca, bahkan kertas bisa diolah menjadi produk yang menarik. Ini membutuhkan pelatihan agar masyarakat memiliki keterampilan mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.

Illiza mengungkapkan, komitmen Banda Aceh dalam pengelolaan sampah telah mendapat apresiasi di tingkat internasional. Kota Banda Aceh berhasil meraih SDGs Award dari CityNet dan dijadwalkan mempresentasikan praktik baik tersebut pada forum internasional yang akan berlangsung September mendatang. Selain itu, ia juga akan menjadi narasumber di Kota Depok untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan persampahan.

Menurutnya, berbagai capaian tersebut menjadi penyemangat bagi Pemerintah Kota Banda Aceh untuk terus mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kita harus mengubah cara pandang bahwa sampah bukan lagi sekadar limbah, tetapi sumber daya yang dapat memberikan manfaat ekonomi jika dikelola dengan baik melalui pelatihan dan pendampingan,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Banda Aceh

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU