Kelenteng tertua di Banda Aceh, Vihara Dharma Bhakti Peunayong, berdiri sejak 1936 dan menjadi saksi hidup toleransi di Tanah Rencong. (Dok : Wikipedia)
ACEH - Banda Aceh selama ini dikenal sebagai kota dengan identitas religius yang kuat. Namun, di balik itu, terdapat sisi lain yang tak banyak disadari, yakni keberadaan vihara yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Vihara di Banda Aceh bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah umat Buddhisme. Lebih dari itu, tempat ini juga menghadirkan suasana tenang yang bisa dirasakan oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan kota.
Sebagian besar vihara berada di kawasan Peunayong, yang dikenal sebagai pusat komunitas Tionghoa. Lingkungan ini memiliki nuansa berbeda, dengan bangunan berarsitektur khas yang mencerminkan perpaduan budaya yang telah lama hidup berdampingan.
Salah satu vihara yang cukup dikenal adalah Vihara Dharma Bhakti. Vihara ini termasuk yang tertua dan telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini juga menyimpan nilai sejarah yang melekat dengan perkembangan kota.
Baca juga: Vihara Dharma Bhakti, Kelenteng Tertua di Banda Aceh
Tak jauh dari sana, terdapat Vihara Buddha Sakyamuni yang aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan. Suasananya cenderung lebih dinamis, terutama saat berlangsungnya ibadah rutin.
Di kawasan yang sama, ada pula Vihara Maitri dan Vihara Dwi Samudera. Meski ukurannya tidak sebesar vihara utama, keduanya tetap memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas umat Buddha di kota ini.
Keberadaan vihara-vihara tersebut menjadi cerminan keberagaman yang berjalan berdampingan di tengah masyarakat. Aktivitas ibadah berlangsung dengan tenang, selaras dengan kehidupan sekitar yang saling menghormati.
Pada momen tertentu seperti Hari Raya Waisak dan Tahun Baru Imlek, vihara biasanya dipenuhi umat yang datang untuk beribadah. Suasana menjadi lebih ramai, namun tetap berlangsung dengan tertib dan khusyuk.
Bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung, vihara terbuka selama pengunjung menjaga sikap sopan, tidak mengganggu aktivitas ibadah, serta menghormati aturan yang berlaku.
Meski tidak selalu terlihat mencolok, keberadaan vihara di Banda Aceh menawarkan pengalaman berbeda—tenang, sederhana, dan menjadi bagian dari wajah lain kota yang jarang terekspos.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber