Hamparan perkebunan Kopi Arabika Gayo di Aceh Tengah menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat. (Dok : Park Side Hotel)
ACEH - Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Tengah, Drs. Mursyid, M.Si., secara resmi membuka kegiatan Diseminasi dan Pembangunan Jejaring Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo sebagai Fondasi Kelangsungan Ekologis dan Ekonomi di Hulu DAS Meureubo, yang berlangsung di Aula Gedung Haji dan Umrah, Paya Ilang, Takengon, Sabtu (27/6).
Kegiatan yang digagas LSM LIPGA Aceh Tengah tersebut bertujuan membangun dukungan serta memperkuat jejaring dalam mewujudkan kebun induk kopi Arabika Gayo yang menghasilkan benih unggul bersertifikat. Program ini merupakan rangkaian keenam dari tujuh tahapan kegiatan yang telah dirancang secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif LSM LIPGA Aceh Tengah, Sunardi Gustiawan, S.B., M.AP., menjelaskan bahwa setiap tahapan telah disusun untuk mendukung terbentuknya sistem pengelolaan kopi yang berkelanjutan.
“Kegiatan ini merupakan kegiatan ke-6 dari 7 kegiatan. Sebelumnya, kegiatan pertama diawali dengan pemetaan partisipatif yang dilanjutkan dengan presentasi hasil pemetaan. Kegiatan kedua berupa lokakarya perencanaan kolaboratif, kegiatan ketiga sekolah lapangan pertanian regeneratif, kegiatan keempat pendampingan teknis dan penyusunan protokol, serta kegiatan kelima advokasi dan konsultasi kebijakan,” jelas Sunardi.
Ia mengatakan, kebun induk Kopi Arabika Gayo yang direncanakan akan dibangun memiliki luas sekitar 30 hektare dan berlokasi di Kampung Berawang Baro, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.
Menurutnya, pembentukan kebun induk tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat tata kelola kawasan berbasis data lapangan, konservasi, serta partisipasi masyarakat. Selain itu, program ini juga diarahkan untuk mendukung rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureubo sekaligus mengembangkan budidaya kopi konservasi yang berkelanjutan di kawasan Perhutanan Sosial KTH-GFNP Aceh Tengah.
Dalam sambutannya, Sekda Aceh Tengah Mursyid menegaskan bahwa keberadaan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyediakan sumber benih unggul.
“Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo ini bukan hanya bertujuan untuk menyediakan sumber benih unggul bersertifikat masyarakat, tetapi juga menjadi model pengelolaan kawasan berbasis konservasi, rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan,” harap Mursyid.
Baca juga: Keren! Mahasiswa Sulap Buah Nipah dan Kopi Gayo Jadi Minuman Kekinian Berbasis Kearifan Lokal
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak yang memiliki kepentingan dalam pengembangan sektor perkebunan dan pelestarian lingkungan.
“Saya berharap seluruh pihak dapat mengambil bagian sesuai dengan kapasitas masing-masing, mulai Pemerintah Daerah, Perangkat Kampung, Perguruan Tinggi, Dunia Usaha, Koperasi, Kelompok Tani, Lembaga Pendamping dan seluruh mitra pembangunan perlu membangun sinergi agar cita-cita besar ini dapat diwujudkan bersama,” tambah Sekda Mursyid.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan Setdakab Aceh Tengah Anshary, S.E., M.AP., perwakilan DPRK Aceh Tengah, IAIN Takengon, Universitas Gajah Putih, Kementerian Agama Aceh Tengah, Bappeda, Dinas Perkebunan, Baitul Mal, Reje Kampung Berawang Baro, pengurus koperasi kopi, organisasi nonpemerintah, serta kelompok tani.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama untuk mendukung penyelamatan kawasan hulu DAS Meureubo sekaligus pengembangan Kopi Arabika Gayo yang berkelanjutan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi panel yang menghadirkan pemerhati sejarah dan kopi Gayo, Zulfikar Ahmat, sebagai narasumber.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Aceh Tengah