ACEH - Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 26 kejadian bencana alam terjadi di Aceh selama periode April 2026. Dari seluruh kejadian tersebut, total kerugian diperkirakan mencapai Rp8 miliar.
Berdasarkan data BPBA, kebakaran permukiman menjadi bencana yang paling dominan terjadi sepanjang April. Tercatat sebanyak 10 kasus kebakaran yang menghanguskan 13 unit rumah dengan estimasi kerugian mencapai Rp3,6 miliar.
Selain kebakaran, bencana banjir juga masih kerap melanda sejumlah wilayah di Aceh. Sedikitnya delapan kejadian banjir terjadi di 17 kecamatan dan 31 desa, serta menyebabkan kerusakan pada dua jembatan. Kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai Rp700 juta.
Sementara itu, banjir bandang tercatat terjadi sebanyak tiga kali dan berdampak pada sembilan kecamatan di 13 desa.
BPBA juga mencatat dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar sekitar 3,3 hektare lahan dengan estimasi kerugian mencapai Rp462 juta.
Di sisi lain, angin puting beliung terjadi dua kali dan merusak 74 unit rumah milik 79 kepala keluarga atau 307 jiwa yang tersebar di enam kecamatan dan 17 desa.
Sedangkan bencana longsor tercatat satu kali terjadi di Desa Blang Tampu, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.
Secara keseluruhan, bencana yang terjadi selama April 2026 berdampak terhadap 93 kepala keluarga atau 342 jiwa di 46 kecamatan dan 75 desa. Tercatat sebanyak 87 rumah turut terdampak akibat berbagai bencana tersebut.
Baca juga: Kebakaran Hebat di Lhokseumawe, 77 Rumah Warga Hangus Dilalap Api
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, ST, MT, mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, khususnya dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Ia meminta masyarakat untuk tidak melakukan eksploitasi hutan secara berlebihan tanpa memperhatikan fungsi hutan sebagai daerah resapan air yang penting untuk mencegah banjir, longsor, maupun karhutla.
“Pemberdayaan masyarakat atau sosialisasi kepada pelaku usaha yang terlibat perluasan lahan, kami imbau untuk tidak membuka lahan dengan membakar hutan,” sebut Bahron.
Ke depan, BPBA menyatakan akan terus berupaya meminimalkan dampak kerusakan maupun korban akibat bencana alam dan nonalam. Seluruh elemen masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya penanggulangan bencana karena, menurut Bahron, bencana merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami terus berupaya agar BPBA bersama seluruh unsur Pemerintahan dan Masyarakat Aceh terus berupaya dalam meningkatkan mitigasi bencana agar jumlah kejadian bencana dapat terus turun dari tahun ke tahun,” ungkap Bahron lagi.
Dalam upaya pengurangan risiko bencana, BPBA juga mendorong adanya pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan partisipatif, mulai dari kajian, perencanaan, pengorganisasian, hingga aksi bersama berbagai pemangku kepentingan. Langkah tersebut diharapkan mampu mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh dalam mengelola lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di Aceh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPBA