ACEH - Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Aceh, Marlina Muzakir, mengajak anak-anak di Aceh untuk tidak takut melawan segala bentuk perundungan (bullying) maupun kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka.
Ajakan tersebut disampaikan perempuan yang akrab disapa Kak Na itu saat berdialog bersama Forum Aneuk Tanoh Rencong di Meuligoe Gubernur Aceh, Jumat (24/7/2026) malam.
Dalam dialog tersebut, Kak Na menekankan pentingnya keberanian anak-anak untuk melaporkan setiap tindakan kekerasan yang mereka alami maupun saksikan kepada pihak yang berwenang.
“Ananda semua harus berani melawan segala bentuk kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungan ananda. Jika menemukan kasus kekerasan, bullying dan jenis kejahatan anak lainnya ananda bisa melaporkan kepada aparat berwajib,” imbau Kak Na.
Selain melalui jalur hukum, ia juga mendorong anak-anak memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan laporan apabila mengalami atau mengetahui kasus perundungan.
“Ananda juga bisa melawan bentuk perundungan tersebut via media sosial. Bisa juga mengirim direct message ke Bunda agar Bunda bisa berkoordinasi dengan pihak terkait di daerah ananda,” sambung Kak Na.
Pada kesempatan itu, Kak Na turut menyoroti kasus kekerasan terhadap seorang anak yang sempat terjadi di Kabupaten Aceh Timur. Ia menilai tindakan main hakim sendiri terhadap anak tidak dapat dibenarkan, meskipun anak tersebut melakukan kesalahan.
“Apa yang ananda tersebut lakukan memang sebuah kesalahan. Namun menghukum seorang bocah yang kedapatan mengambil uang hanya sebesar Rp10 ribu dengan demikian brutal tentu merupakan sebuah kesalahan besar,” kata Kak Na.
Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak milik orang lain sejak dini. Namun, ia juga mengajak masyarakat agar lebih bijaksana dalam menyikapi kenakalan anak.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Ketua TP PKK Aceh Kampanyekan Main Tradisional dan Kurangi Gadget
“Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih bijak dalam bereaksi pada kasus-kasus kenakalan anak dan remaja. Anak Aceh adalah anak kita semua, jika kasus seperti di Aceh Timur terulang lagi, sebaiknya diselesaikan dengan cara-cara yang lebih manusiawi. Tanyakan kenapa dia mengambil uang tersebut, bisa jadi ia lapar atau ada kebutuhan mendesak yang belum mampu dijangkau nalar seorang anak dan dirinya terpaksa mengambil langkah pintas,” imbau Kak Na.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar dan mengedepankan pendekatan edukatif ketika menghadapi persoalan yang melibatkan anak-anak.
“Nalar anak tentu belum mampu menjangkau baik buruk suatu perbuatan negatif serta sebab akibat yang timbul dari sebuah kesalahan yang mereka lakukan. Jadi, mari kita jadikan pendidikan anak sebagai sebuah kesadaran kolektif, kesadaran bersama karena merekalah generasi penerus Aceh,” ucap Kak Na.
Menutup dialog, Kak Na menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Anak Nasional 2026 kepada seluruh anak-anak Aceh. Ia berharap generasi muda terus tumbuh menjadi pribadi yang saleh, sehat, tangguh, dan mampu bersaing di masa depan.
“Selamat memperingati Hari Anak Nasional tahun 2026 buat ananda semua, buat seluruh anak-anak Aceh. Teruslah menjadi pribadi yang saleh, sehat, kuat dan berdaya saing. Sampai jumpa besok pada puncak Peringatan Hari Anak Nasional, di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya,” pungkas Kak Na.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Aceh A. Murthala serta Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Meutia Juliana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Aceh