Salah satu gedung pernikahan di Banda Aceh. (Dok : Teuku Muhammad)
ACEH -Kalau ngomongin persiapan nikah di Banda Aceh, satu hal yang hampir selalu jadi titik awal adalah: cari gedung. Dari situ, biasanya langsung muncul angka-angka yang terlihat “ramah di kantong”. Ada yang mulai dari Rp7 juta, Rp10 juta, bahkan ada yang kelihatan sangat murah dibanding kota lain.
Masalahnya, banyak calon pengantin berhenti di angka itu.
Padahal, realitanya jauh lebih kompleks. Harga sewa gedung sering hanya bagian kecil dari total biaya yang harus disiapkan. Bahkan dalam banyak kasus, angka awal itu bisa jadi jebakan kalau tidak dihitung secara menyeluruh.
Beberapa gedung populer di Banda Aceh memang menawarkan kisaran harga yang cukup beragam. Misalnya, gedung besar seperti AAC Dayan Dawood bisa berada di rentang Rp15 sampai Rp35 juta untuk penggunaan hall saja. Sementara tempat seperti Amel Convention Hall atau Gedung Wanita Cut Nyak Dhien biasanya lebih fleksibel di kisaran Rp8 sampai Rp25 juta.
Di sisi lain, ada juga pilihan yang lebih “hemat” seperti Gedung Serbaguna Harapan Bangsa yang bisa mulai dari sekitar Rp7 jutaan. Tapi di level yang lebih tinggi, gedung seperti Nanik Convention Hall atau venue dengan konsep modern dan paket lengkap bisa menembus Rp40 juta bahkan lebih.
Kalau ingin yang praktis tanpa banyak ribet, beberapa hotel seperti Grand Permata Hati Hotel menawarkan paket langsung jadi, walaupun harganya bisa lompat ke kisaran Rp80–150 juta.
Baca juga: Cara Urus Perkara di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh, Gak Seribet yang Kamu Kira
Sekilas terlihat jelas: tinggal pilih sesuai budget. Tapi di sinilah banyak orang mulai salah langkah.
Yang sering tidak disadari, harga sewa gedung itu biasanya hanya mencakup “ruangan kosong”. Begitu masuk ke tahap eksekusi, satu per satu biaya tambahan mulai muncul.
Katering misalnya. Kalau gedung punya vendor sendiri, biasanya aman. Tapi kalau ingin bawa katering luar, hampir pasti ada charge tambahan. Nilainya memang terlihat kecil per porsi, tapi kalau tamu ratusan, totalnya bisa jadi jutaan rupiah.
Belum lagi soal listrik. Banyak pasangan baru sadar kalau dekorasi besar, lighting, dan sound system butuh daya tambahan. Dan itu tidak gratis. Dalam beberapa kasus, biaya listrik saja bisa setara dengan harga sewa gedung itu sendiri.
Hal lain yang sering dianggap sepele adalah kebersihan dan keamanan. Ada gedung yang memasukkannya ke paket, tapi tidak sedikit yang memisahkannya sebagai biaya tambahan. Begitu juga dengan waktu penggunaan. Lewat sedikit saja dari jadwal, biasanya langsung dikenakan overtime.
Satu lagi yang sering jadi jebakan adalah soal kapasitas. Banyak gedung mencantumkan angka besar—1.000 tamu, bahkan lebih. Tapi angka itu biasanya kapasitas maksimal, bukan kapasitas ideal.
Dalam praktiknya, kalau benar-benar diisi penuh, suasana bisa terasa padat, antrean makanan panjang, dan tamu jadi tidak nyaman. Idealnya, jumlah undangan disesuaikan sekitar 70–80 persen dari kapasitas agar tetap lega.
Ini penting, karena pengalaman tamu seringkali lebih diingat daripada dekorasi atau kemewahan acara itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber