Koin emas peninggalan Kerajaan Samudera Pasai menjadi saksi kemajuan perdagangan dan ekonomi di Aceh pada abad ke-13 hingga ke-15. (Dok : Wikipedia)
ACEH - Kerajaan Samudera Pasai merupakan salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Berdiri di pesisir utara Aceh sekitar abad ke-13, kerajaan ini dikenal sebagai pusat perdagangan, penyebaran Islam, sekaligus pintu masuk berbagai pengaruh budaya dari Timur Tengah, India, dan Tiongkok.
Meski kejayaannya telah berlalu berabad-abad silam, berbagai peninggalan Kerajaan Samudera Pasai masih dapat ditemukan hingga sekarang. Situs-situs bersejarah tersebut menjadi saksi bisu perjalanan kerajaan yang pernah menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tenggara.
Bagi pencinta sejarah dan wisata budaya, menelusuri jejak peninggalan Samudera Pasai bukan sekadar perjalanan ke masa lalu, tetapi juga kesempatan memahami akar perkembangan Islam di Indonesia.
Kerajaan Samudera Pasai berdiri di wilayah yang kini termasuk Kabupaten Aceh Utara. Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai Meurah Silu. Setelah memeluk Islam, ia mendirikan pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam terkuat di kawasan Selat Malaka.
Letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional membuat Samudera Pasai berkembang pesat. Kapal-kapal dagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok singgah di pelabuhan kerajaan untuk melakukan aktivitas perdagangan.
Kejayaan Samudera Pasai juga tercatat dalam berbagai sumber sejarah, salah satunya catatan penjelajah asal Maroko, Ibnu Battutah. Dalam perjalanannya pada abad ke-14, ia menggambarkan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam yang makmur dengan kehidupan keagamaan yang berkembang baik.
Selain menjadi pusat perdagangan, kerajaan ini juga dikenal sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam. Dari wilayah inilah ajaran Islam kemudian menyebar ke berbagai daerah di Nusantara.
Seiring berjalannya waktu, sebagian besar bangunan kerajaan telah hilang akibat faktor alam maupun perubahan zaman. Namun sejumlah situs penting masih dapat ditemukan hingga saat ini.
1.Makam Sultan Malik Al-Saleh
Salah satu peninggalan paling terkenal dari Kerajaan Samudera Pasai adalah makam Sultan Malik Al-Saleh yang berada di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.
Pada batu nisannya terdapat tulisan beraksara Arab yang mencatat tahun wafat sang sultan pada 696 Hijriah atau 1297 Masehi. Makam ini menjadi bukti penting keberadaan kerajaan Islam awal di Nusantara sekaligus destinasi wisata sejarah yang banyak dikunjungi peziarah dan peneliti.
2. Makam Sultanah Nahrasiyah
Kompleks makam Sultanah Nahrasiyah juga menjadi salah satu peninggalan berharga Kerajaan Samudera Pasai. Sultanah Nahrasiyah dikenal sebagai penguasa perempuan yang pernah memimpin kerajaan pada masa kejayaannya.
Keindahan ukiran kaligrafi dan ornamen pada batu nisan menjadikan makam ini sering disebut sebagai salah satu karya seni Islam terbaik yang pernah ditemukan di Indonesia.
Baca juga: Masjid Tuha Indrapuri: Masjid Tertua Aceh yang Berdiri di Atas Candi Hindu-Buddha
3. Makam Sultan Malik Az-Zahir
Sultan Malik Az-Zahir merupakan putra Sultan Malik Al-Saleh sekaligus penerus pemerintahan Samudera Pasai. Pada masa kepemimpinannya, hubungan perdagangan dan dakwah Islam semakin berkembang.
Makamnya kini menjadi salah satu situs sejarah yang menunjukkan kesinambungan kepemimpinan kerajaan pada masa awal perkembangan Islam di Aceh.
4. Situs Cot Astana
Cot Astana diyakini sebagai kawasan yang pernah menjadi pusat aktivitas pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai. Di lokasi ini ditemukan berbagai artefak dan sisa-sisa struktur bangunan kuno yang mengindikasikan keberadaan kompleks kerajaan pada masa lampau.
Meski sebagian besar bangunan sudah tidak utuh, kawasan ini masih menjadi objek penelitian para arkeolog dan sejarawan.
5. Mata Uang Dirham Samudera Pasai
Selain situs fisik, peninggalan penting lainnya adalah mata uang dirham emas yang pernah digunakan sebagai alat transaksi perdagangan.
Keberadaan dirham menunjukkan bahwa Samudera Pasai telah memiliki sistem ekonomi yang maju. Mata uang tersebut digunakan dalam perdagangan lokal maupun internasional dan menjadi simbol kekuatan ekonomi kerajaan pada masanya.
6. Batu Nisan Kuno Bernuansa Timur Tengah
Di sejumlah kawasan bekas Kerajaan Samudera Pasai ditemukan banyak batu nisan kuno dengan bentuk dan corak yang dipengaruhi budaya Timur Tengah.
Keberadaan batu nisan tersebut menjadi bukti eratnya hubungan Samudera Pasai dengan dunia Islam internasional, baik dalam bidang perdagangan, pendidikan, maupun penyebaran agama.
Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga menyimpan makna sejarah yang penting.
Kompleks makam para sultan berfungsi sebagai tempat pemakaman keluarga kerajaan sekaligus simbol legitimasi kekuasaan. Situs-situs tersebut juga menunjukkan bagaimana tradisi Islam berkembang dan berakulturasi dengan budaya lokal.
Sementara itu, kawasan Cot Astana berperan sebagai pusat pemerintahan dan pengambilan keputusan kerajaan. Dari tempat inilah aktivitas politik, ekonomi, dan hubungan luar negeri dijalankan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber